Rusia Desak Warga Asing dan Diplomat Tinggalkan Kyiv, Peringatkan Serangan Besar-Besaran

Rusia meminta warga asing dan diplomat meninggalkan Kyiv serta menghindari fasilitas militer. Peringatan disampaikan lewat nota diplomatik.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Rusia Desak Warga Asing dan Diplomat Tinggalkan Kyiv, Peringatkan Serangan Besar-Besaran
Pemandangan sebuah mobil yang hancur di tengah bangunan-bangunan yang rusak, serta rambu jalan yang menunjukkan arah dan jarak ke Kyiv dan Zhytomyr, setelah serangan Rusia menghantam sebuah gudang yang kemudian disusul oleh ledakan di desa Myla, wilayah Kyiv, Ukraina, Sabtu, 29 Agustus 2026. (Foto AP/Dan Bashakov)

Rusia mendesak warga negara asing dan personel misi diplomatik di Kyiv untuk segera meninggalkan ibu kota Ukraina serta menghindari perjalanan ke negara itu, di tengah pernyataan Moskow bahwa serangan balasan besar-besaran terhadap target militer akan berlanjut. Imbauan tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri Rusia, dikutip dari Anadolu, Senin (5/10/2026).

Kementerian juga meminta agar warga asing menjauhi fasilitas militer dan administratif di Ukraina. "Kementerian Luar Negeri Rusia sekali lagi memperingatkan warga negara asing, termasuk personel misi diplomatik, agar tidak berada di Ukraina atau melakukan perjalanan ke Ukraina," kata Kementerian Luar Negeri Rusia.

"Segala tanggung jawab atas kemungkinan konsekuensi buruk sepenuhnya berada pada mereka yang mengabaikan peringatan ini," lanjut pernyataan itu.

Kementerian menyatakan Rusia akan terus melancarkan serangan terhadap target militer di Kyiv dan kota-kota lainnya. Serangan itu disebut sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai "tindakan teroris" pasukan Ukraina terhadap penduduk sipil dan infrastruktur di wilayah Rusia.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut peringatan serupa telah disampaikan dalam pernyataan pada 25 Mei, serta melalui nota diplomatik yang dikirim kepada sejumlah mitra asing. Peringatan itu juga diulang dalam pengarahan bagi korps diplomatik pada 27 Mei oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Galuzin.

Menurut kementerian, Amerika Serikat, Inggris, negara-negara Uni Eropa, Norwegia, dan Swiss juga berulang kali meminta warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke Ukraina, terakhir pada Agustus.

"Sejumlah besar kedutaan masih beroperasi di Kyiv, dan pejabat asing terus mengunjungi Ukraina," kata Kementerian Luar Negeri Rusia.

Moskow memperingatkan bahwa mereka yang mengabaikan imbauan tersebut "secara sadar menempatkan diri dalam bahaya kematian".

"Angkatan Bersenjata Federasi Rusia akan terus melancarkan serangan balasan besar-besaran," kata kementerian tersebut.

Perang Rusia-Ukraina sendiri telah berlangsung sekitar empat setengah tahun.

Rekomendasi