Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menyebut seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki sebagai bagian dari Israel. Ia juga berjanji akan membubarkan Otoritas Palestina serta mendorong warga Palestina meninggalkan Tepi Barat dan Gaza jika ditunjuk sebagai menteri pertahanan. Dilansir dari Middle East Eye, Senin (5/10/2026), agenda tersebut ia usung bila mendapatkan jabatan itu.
Ben Gvir mengeklaim 60 persen warga Palestina ingin “beremigrasi”. Ia menegaskan komitmennya mendorong kebijakan tersebut. “Saya akan mendedikasikan waktu untuk ini dan mengelola prosesnya secara berkelanjutan. Setiap minggu, saya akan mengadakan pembahasan yang melibatkan semua pihak terkait,” kata Ben Gvir.
Ia juga menolak pembedaan wilayah berdasarkan Perjanjian Oslo. “Tidak ada perbedaan antara Area A, B, dan C. Seluruh tanah itu milik kami,” lanjutnya. Dalam kerangka Oslo 1995, Area A dan B berada di bawah tingkat kewenangan Palestina yang berbeda, sementara Israel mempertahankan kendali atas Area C. Adapun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menganggap Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sebagai wilayah Palestina yang diduduki, dan menyatakan permukiman Israel di wilayah yang diduduki sejak 1967 “tidak memiliki keabsahan hukum”.
Ben Gvir, yang berulang kali melontarkan pernyataan yang dinilai sebagai genosida terhadap warga Palestina, juga menyerukan pelonggaran aturan penggunaan kekuatan oleh militer di wilayah pendudukan. Menjawab pertanyaan mengenai kebutuhan tambahan pasukan untuk operasi di Tepi Barat dan Gaza, ia berkata, “Ini sangat sederhana: Semakin Anda mengizinkan tentara menembak dan menggunakan kekuatan, semakin sedikit personel yang Anda perlukan,” ujarnya. “Saya akan menghapus pembatasan terhadap tentara kami. Saat ini, aturan penggunaan kekuatan oleh polisi jauh lebih longgar dibandingkan dengan tentara,” tambahnya.
Ben Gvir turut mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilainya “tidak cukup menginginkannya” terkait dorongan pemindahan warga Palestina. Pernyataan tersebut disampaikan beberapa pekan sebelum pemilu Knesset Israel pada 27 Oktober, saat ia berupaya menguatkan basis dukungan di kalangan kelompok sayap kanan.
Advertisement
Ketegangan di Situs Suci dan Kunjungan Pejabat Israel
Pernyataan Ben Gvir muncul setelah rangkaian aksi di situs-situs suci umat Islam di Yerusalem dan Hebron selama perayaan Sukkot. Pada 29 September, sekitar 966 pemukim Israel memasuki halaman kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki. Video dari kelompok sayap kanan memperlihatkan peserta melakukan ritual keagamaan, berdoa, bernyanyi, dan menari di dalam halaman tersebut. Ben Gvir sebelumnya termasuk di antara mereka yang memasuki kompleks Al-Aqsa pada aksi-aksi terdahulu.
Perkembangan itu berlangsung setelah Benjamin Netanyahu mengunjungi terowongan di bawah Al-Aqsa. Dalam kunjungannya, perdana menteri Israel mengatakan, “Menyentuh batu yang menjadi dasar keberadaan kami adalah sesuatu yang mengharukan. Kami berada sangat dekat dengan Ruang Mahakudus. Kami berada di sini dan akan selalu tetap di sini.” Status quo kompleks Al-Aqsa menempatkan pengelolaan di bawah Wakaf Islam Yerusalem, sementara Israel mengendalikan keamanan dan akses.
Pada 29 September, Ben Gvir juga mengunjungi Masjid Ibrahimi di Hebron bersama ratusan pemukim Israel saat perayaan Sukkot. “Ketika saya tiba di Masjid Ibrahimi, saya mendapatkan energi yang membuat saya ingin bernyanyi dan bersukacita,” kata Ben Gvir kepada Channel 14 dalam kunjungan tersebut. Otoritas Israel menutup masjid bagi jemaah Muslim selama hari raya Yahudi itu, keputusan yang dikecam Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina sebagai serangan terhadap masjid dan kebebasan beribadah. Masjid Ibrahimi telah dibagi untuk jemaah Muslim dan Yahudi sejak 1994, setelah seorang pemukim Israel membunuh 29 jemaah Palestina di dalam masjid.