Anda mungkin telah mengenal sosok Firaun meski hanya lewat cerita dan banyak dokumen. Raja Mesir kuno seperti diriwayatkan dalam pelbagai kitab suci. Dalam kesepakatan umum dia menjadi istilah merujuk pada seluruh pemimpin Negeri Sungai Nil, namun dalam buku banyak agama dunia Firaun ke-18 paling dikenang. Bukan prestasinya, namun kekejamannya memerintah dengan tangan besi, serta melakukan segala cara agar tak ada yang lebih kuat darinya. Dia juga lah yang mengaku sebagai Tuhan.Julukan itu bisa jadi pas bagi presiden Mesir baru, Abdul Fattah al-Sisi. Sebelum pemilihan umum (pemilu) menghantarkannya di tampuk kekuasaan, Sisi menggunakan banyak cara memperlihatkan tak ada satu elemen pun lebih kuat daripada dia sebagai perwakilan dari militer, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya (4/6).Militer Mesir memang memiliki sejarah tersendiri di Negeri Piramida itu. Bukan hanya sebagai yang terbanyak se-Timur Tengah namun juga keterlibatan mereka dalam gejolak politik yang terjadi dan itu telah tercatat sejak zaman dulu. Bagai Firaun, Sisi menyingkirkan seluruh warga yang tak mendukungnya, termasuk penduduk netral, tidak memilih siapa pun, termasuk Ikhwanul Muslimin yang kini menjadi minoritas.Atas perintah Sisi pula kepolisian Mesir membangun sistem pengawasan yang memantau media sosial dan Internet hingga mereka bisa melacak seluruh ekspresi rakyat negara, termasuk segala kata-kata tidak senonoh dilancarkan pada Sisi. Ini dilakukannya sebelum pemilu, artinya sebelum lelaki 62 tahun itu naik jadi pemimpin. Bisa dibayangkan bahkan sebelum berkuasa dia bisa membungkam kebebasan bersuara, apalagi saat ini dirinya sudah jadi presiden.Dengan dalih menekan kekerasan, hasutan, dan pemberontakan, disadari atau tidak oleh rakyat Mesir justru Sisi tengah mengontrol seluruh warga entah demi tujuan apa. Ini ironis lantaran saat negara itu masih dipimpin Muhammad Mursi beberapa pegiat menuding Mursi lah yang hendak membungkam mereka dan pelan-pelan ingin menerapkan hukum Islam. Salah satu pegiat paling diingat yakni Alia al-Mahdi. Perempuan asal Ibu Kota Kairo yang bergabung dengan pegiat Femen, bersama-sama mereka bugil di depan kantor kedutaan Mesir di Swedia menentang kontrol demokrasi dan hukum Islam oleh Mursi. Tak hanya kata-kata mengecam Sisi, segala tulisan dianggap membahayakan pemerintah akan langsung diblokir. "Mereka pikir hanya mereka satu-satunya yang bisa menilai pendapat orang lain," ujar pengamat dan peneliti hak-hak digital, Ramy Rauf. Dia telah sekian lama mendokumentasikan pelanggaran kebebasan dunia maya di Mesir dan kini paling sering dilakukan saat Sisi dan militer mengambil alih kekuasaan.Akhirnya pemilu itu pun datang dan sudah ditebak hasilnya. Sisi menang. Warga banyak yang menyukai sosoknya sebab di tangannya Mesir telah tenang setelah tiga tahun dilanda konflik. "Sisi punya kekuatan untuk mencapai stabilitas," ujar seorang penduduk bernama Rafat memuji presiden pilihannya. Bisa jadi Rafat dan jutaan warga lain tak sadar, stabilitas yang diwujudkan Sisi harus berdiri di atas darah warga lainnya. Sepaham atau tidak, warga adalah warga dan negara harus melindunginya, bukan menindas.Tak salah jika masih ada sebagian orang yang tidak ikhlas diperintah oleh Sisi. Mereka yakin Sisi bakal menjadi diktator selanjutnya. Revolusi Mesir yang sejatinya menyingkirkan militer dalam pemerintahan malah berakhir pahit. Sisi dan angkatan bersenjatanya semakin hari semakin kuat dan berpotensi sewenang-wenang. Persis Firaun.
Firaun baru Mesir
Sisi menyingkirkan siapa pun tidak setuju dengannya, persis sosok pemimpin Mesir kuno, Firaun.
Advertisement
Rekomendasi