Samarinda, 19 Juli (ANTARA) - Deretan menara dan bangunan mulai menjulang di jantung Kalimantan Timur, menandai pesatnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kawasan yang sebelumnya berupa perkebunan dan hutan sunyi, kini ramai dengan aktivitas alat berat dan ribuan pekerja yang bergotong royong mewujudkan visi kota masa depan. Proyek ambisius ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan denyut nadi baru yang mengalirkan kehidupan ke setiap sudut wilayah.
Perkembangan IKN terus menjalin ikatan tak terputus antara wilayah inti dan daerah penyangga, antara rencana besar pemerintah dan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Pembangunan ini menjadi magnet bagi investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memicu pertumbuhan ekonomi di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa IKN adalah proyek transformatif yang memiliki jangkauan dampak yang luas.
Pada pertengahan Juli 2026, sebuah perusahaan penanaman modal asing pertama telah memulai pembangunan fisik proyek kawasan terpadu senilai Rp1,25 triliun di Sub Wilayah Pengembangan 1B Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Proyek kolaborasi dengan mitra Tiongkok ini akan menghadirkan hunian, tempat usaha, dan ruang kerja di lahan seluas 15.501 meter persegi, dirancang selaras dengan prinsip kelestarian alam Nusantara. Seluruhnya direncanakan rampung pada tahun 2028, menegaskan komitmen kuat dalam membangun wajah baru negara.
Advertisement
Advertisement
IKN Suburkan Ekonomi Lokal dan Tarik Investor Global
Kehadiran IKN membawa dampak positif yang meluas, tidak hanya terbatas pada pembangunan fisik di kawasan inti. Proyek ini secara aktif melibatkan kontraktor lokal dari Kalimantan Timur dalam setiap tahapan konstruksi, menunjukkan komitmen pemberdayaan potensi daerah. Ini menjadi bukti nyata bahwa modal asing yang masuk tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Kepercayaan dunia internasional terhadap Nusantara semakin menguat dengan kehadiran investor dari Korea Selatan yang bersiap mengembangkan apartemen dan hotel di kawasan yang sama. Selain itu, deretan delegasi bisnis dari berbagai kota di Tiongkok turut menyaksikan momen peletakan fondasi, menandakan minat global yang tinggi terhadap potensi IKN. Fenomena ini membuktikan bahwa IKN bukan sekadar harapan, melainkan kenyataan investasi yang mulai terwujud.
Dampak ekonomi IKN juga terasa signifikan di daerah penyangga, seperti Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang sebagian besar wilayahnya menjadi lokasi Kota Nusantara. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten PPU, Tur Wahyu Sutrisno, mengungkapkan bahwa kehidupan ekonomi masyarakat perlahan namun pasti berubah menjadi lebih baik. Pertumbuhan usaha, khususnya di sektor perhotelan dan restoran, menjamur untuk melayani ribuan orang yang datang untuk bekerja, berkunjung, dan berinvestasi.
Advertisement
Peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten PPU menjadi indikator jelas dari geliat ekonomi ini. Pada akhir tahun lalu, target pajak hotel sebesar Rp1,5 miliar untuk tahun 2026 telah terlampaui hingga mencapai Rp2,8 miliar, atau 191 persen dari sasaran. Demikian pula, pajak restoran yang ditargetkan Rp4,9 miliar berhasil melampaui batas menjadi Rp5,1 miliar, mencapai 104 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa makin ramainya penginapan dan kuliner lokal turut menggerakkan roda ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di PPU.
Advertisement
Kajian Otorita IKN Ungkap Pertumbuhan Ekonomi Signifikan
Hasil kajian dampak ekonomi yang dilakukan Otorita IKN untuk periode pembangunan tahap pertama (2022 hingga 2024) memperkuat kenyataan positif ini. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten PPU tercatat melonjak tajam hingga mencapai 19,9 persen, angka yang jauh melampaui daerah lain di Kalimantan Timur. Secara keseluruhan, Kalimantan Timur juga mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sebesar 3,7 persen dibandingkan rata-rata gabungan empat provinsi lainnya di Pulau Kalimantan.
Perbandingan dengan provinsi lain menunjukkan disparitas yang signifikan; Kalimantan Utara tumbuh 3,4 persen (bergantung pada tambang dan perkebunan), Kalimantan Tengah 3,1 persen (komoditas sawit dan karet), dan Kalimantan Selatan 2,8 persen (batu bara dan perdagangan). Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat angka terendah, yakni 2,2 persen, dengan keterkaitan yang belum kuat terhadap aktivitas pembangunan ibu kota. Lonjakan pertumbuhan di PPU dan Kalimantan Timur secara keseluruhan didorong oleh besarnya belanja pembangunan serta aliran investasi yang masuk secara langsung.
Sektor konstruksi menjadi tulang punggung utama dalam struktur pendapatan daerah, menandai pergeseran ekonomi dari ketergantungan pada sumber daya alam mentah menuju sektor bernilai tambah lebih tinggi. Deputi Bidang Perencanaan dan Pertanahan Otorita IKN, Mia Amalia, menegaskan bahwa “Keberhasilan IKN tidak hanya diukur dari seberapa banyak gedung yang berdiri, melainkan seberapa besar pertumbuhan ekonomi yang dihasilkannya dan seberapa luas manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.”
Advertisement
Dampak positif ini tidak terbatas pada kawasan inti IKN saja. Kebutuhan akan bahan bangunan, logistik, akomodasi, angkutan, serta beragam jasa dan barang penunjang lainnya telah membuka peluang bagi pelaku usaha dari Balikpapan, Samarinda, dan kabupaten-kabupaten sekitarnya. Jaringan ekonomi ini menjadi fondasi penting bagi terbentuknya konsep Superhub Ekonomi Nusantara, yang menghubungkan potensi seluruh wilayah Kalimantan Timur menjadi satu kesatuan rantai pasok yang saling menguatkan. Ke depan, dampak ekonomi diprediksi makin meluas hingga seluruh Kalimantan.
Sumber: AntaraNews