Kasus kematian mantan Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat telah membuat semua orang saling tuding. Akhir hayatnya sangat dirahasiakan, bahkan sang istri Suha dan para ajudan setianya tidak diperkenankan menengok jenazah Arafat.
Meski tidak ada tersangka kuat namun pihak dituding paling menginginkan kematian Arafat yakni Israel. Menurut mereka Arafat bisa menjadi bukit terjal dalam usaha Israel mencaplok Palestina merujuk pada perjanjian damai Oslo, ditanda tangani di Amerika Serikat. Perjanjian ini paling berpengaruh sebab Negeri Adidaya menjadi saksi bagi terciptanya suasana baru antar kedua negara dan mereka yang bersumpah diwakili Arafat dan Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin.
Perjanjian ini pula membuat Rabin dibunuh oleh ekstremis Yahudi tidak menginginkan Israel lemah pada Palestina. Pun Arafat mendapat penentangan dari Hamas menginginkan Palestina tetap angkat senjata sebab sudah berkali-kali Israel melanggar kesepakatan perdamaian, termasuk Camp David.
Benar saja, perjanjian Oslo pun menjadi hanya tinta di atas kertas. Gempuran Israel tidak berhenti bahkan semakin gencar dan Hamas pun tidak tinggal diam. Bedanya kali ini pandangan politik Hamas dan Fatah sempat bercerai kini Arafat mulai terlihat mendukung langkah Hamas yang tegas pada Negeri Bintang Daud itu.
Akhirnya pada 2004, entah kesengajaan atau tidak, pemimpin senior Hamas Abdul Aziz Rantissi terbunuh oleh Israel dan di tahun sama Arafat juga meninggal.
Spekulasi kematian Arafat terus berkembang namun Ketua Komite Palestina Taufik Terawi sangat yakin Israel lah pelaku satu-satunya.
Namun ternyata sangat mengejutkan lantaran tudingan kaki tangan Israel atas kematian Arafat justru mampir pada Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas. Adalah pengacara asal Palestina Fahmi Shabaneh yang menjelaskan dia memiliki dokumen membuktikan Abbas serta pemimpin senior Fatah Muhammad Dahlan terlibat dalam meracuni Arafat dengan polonium.
"Pejabat Otoritas Palestina juga mencegah dokter Arafat untuk melihat dia di hari-hari terakhirnya," kata Shabaneh.
Pada September 2009, Abbas memecat Kepala Politik Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) cabang Damaskus, Shiddiq al-Qadoumi, setelah dia menyalahkan presiden Otoritas Palestina dan mantan pemimpin Fatah atas pembunuhan Arafat.
Al-Qadoumi mengatakan dia memiliki informasi yang membenarkan Abbas dan Dahlan sama-sama terlibat dalam pembunuhan Arafat.
Sementara itu, Shabaneh telah menyingkirkan kemungkinan bahwa setiap penyelidikan akan mengungkapkan fakta tentang pembunuh yang sebenarnya, Abbas dan Dahlan, karena mereka memiliki banyak koneksi dalam kasus kematian Arafat.