Pemerintah Indonesia belum berencana menutup kedutaan besarnya di Ibu Kota Damaskus, Suriah, situasi keamanan di negara itu terus memburuk. Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Tatang Razak menegaskan pihaknya tidak akan menutup kedutaan sampai semua warga Indonesia di Suriah dievakuasi. "Penutupan kedutaan besar di Suriah belum bisa kami lakukan karena masih ada warga negara Indonesia yang berada di sana dan membutuhkan pelayanan serta perlindungan. Opsi penutupan akan dipertimbangkan jika situasi memang semakin memburuk," kata Tatang saat dihubungi merdeka.com melalui telepon selulernya, Kamis (15/3). Sejauh ini, beberapa negara sudah menutup kedutaan mereka di Damaskus, yakni Amerika serikat, Belanda, Kanada, Inggris, Turki, Italia, Prancis, dan Arab Saudi. Langkah itu diambil dengan alasan situasi keamanan kian memprihatinkan. Data yang dimiliki Kementrian Luar Negeri menyebutkan ada 12.500 orang Indonesia di Suriah, kebanyakan sebagai tenaga kerja. Namun Tatang tidak bisa memastikan jumlah yang masih menetap di sana. "Senin minggu depan (19/3) akan kita pulangkan lagi 30 warga negara Indonesia," ujarnya. Setelah konflik bersenjata meletup di Suriah, Kedutaan Indonesia secara berangsur-angsur memulangkan warganya. Prioritas utama adalah mereka yang tinggal di wilayah konflik, seperti Homs, Idlib, Daraa, dan Hama. "Kami akan terus melakukan evakuasi hingga sebagian besar WNI pulang ke tanah air dengan selamat," kata Tatang. Sejak revolusi meletup di negara itu Maret tahun lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat sedikitnya 7.500 orang tewas, kebanyakan warga sipil. Sejumlah tempat yang menjadi basis oposisi digempur habis-habisan, yakni Homs, Hama, Daraa, dan Idlib.
Indonesia belum berniat tutup kedutaan di Damaskus
Amerika Serikat, Belanda, Italia, Prancis, Inggris, Kanada, Turki, dan Arab Saudi sudah menutup kedutaan mereka.
Advertisement
Rekomendasi