Upaya terbaru untuk melelang rumah keluarga Aung San Suu Kyi pada Rabu (5/2) gagal. Ini merupakan percobaan ketiga untuk menjual properti yang terletak di tepi Danau Inye, Yangon, Myanmar, tempat Suu Kyi ditahan selama hampir 15 tahun. Rumah ini dianggap sebagai lokasi bersejarah dari perjuangannya melawan junta militer, yang membawanya meraih Nobel Perdamaian.
Pada lelang sebelumnya yang diadakan pada bulan Agustus, harga yang ditetapkan oleh pengadilan mencapai USD142 juta. Namun, pada lelang Rabu lalu, harga tersebut turun menjadi USD 141 juta atau sekitar Rp2,3 triliun (dengan kurs 1 USD = 16.344.2 IDR), seperti dikutip dari AP.
Pemerintahan Suu Kyi yang terpilih secara demokratis digulingkan melalui kudeta militer pada Februari 2021. Saat ini, perempuan berusia 79 tahun itu sedang menjalani hukuman total 27 tahun atas berbagai kasus kriminal, yang menurut para pendukungnya merupakan rekayasa untuk mendiskreditkannya.
Sejak kudeta, perlawanan terhadap pemerintahan militer semakin meningkat. Hingga saat ini, Myanmar terjebak dalam konflik saudara yang brutal. Lelang yang dilakukan atas perintah pengadilan ini merupakan hasil dari perselisihan hukum yang telah berlangsung selama beberapa dekade antara Suu Kyi dan saudaranya, Aung San Oo, yang menuntut pembagian properti yang adil. Setiap kali rumah ini dilelang, harga selalu mengalami penurunan, namun hingga kini belum ada pembeli yang muncul.
Lelang pada Rabu tersebut berlangsung di depan gerbang properti yang tertutup. Selama tinggal di sana, Suu Kyi pernah mendapatkan kunjungan dari tokoh-tokoh terkenal seperti Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 19 November 2012, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton pada 2 Desember 2011, dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada 1 Mei 2012. Seperti pada lelang-lelang sebelumnya, kurang dari satu menit setelah dimulai, seorang pejabat pengadilan distrik keluar dan mengumumkan bahwa tidak ada penawar yang hadir. Proses lelang pun dihentikan.
"Lelang ini tidak berhasil karena tidak ada penawar," ujar pejabat yang enggan menyebutkan namanya.
Bangunan bergaya kolonial dua lantai tersebut diberikan oleh pemerintah beberapa dekade lalu kepada ibu Suu Kyi, Khin Kyi, setelah suaminya, pahlawan kemerdekaan Jenderal Aung San, dibunuh pada Juli 1947.