Kuil Suku Arab Kuno dari 4.000 Tahun Lalu Ditemukan di Pulau Terpencil di Kuwait, Berisi Harta Karun Emas

Kuil itu adalah peninggalan peradaban Dilmun yang mencakup wilayah Bahrain, Arab Saudi bagian timur, dan Kuwait.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Kuil Suku Arab Kuno dari 4.000 Tahun Lalu Ditemukan di Pulau Terpencil di Kuwait, Berisi Harta Karun Emas
temuan kuil suku arab kuno di kuwait (Rapid Travel Chai)

Kuil Zaman Perunggu berusia 4.000 tahun sisa peninggalan peradaban Dilmun baru-baru ditemukan di Pulau Falaika, Kuwait.

Kuil berukuran 11 meter x 11 meter ini ditemukan bersama artefak lain seperti segel dan tembikar yang mengonfirmasi hubungan kuil ini dengan suku Dilmun, suku berbahasa Semit Timur dari Arabia timur yang berdagang secara ekstensif dengan peradaban Mesopotamia.

Tim peneliti gabungan Kuwait-Denmark dari museum Moesgaard di Denmark telah melakukan penggalian selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menemukan sisa bangunan kuil lainnya yang terletak bersebelahan dengan bangunan administrasi.

Dr. Stephen Larsen, kepada delegasi Denmark, mengatakan bahwa tata letak kuil ini menyimpan petunjuk tentang praktik keagamaan periode Dilmun awal, yang menunjukkan altar yang memiliki makna ritual dan seremonial.

Sementara itu, Dr. Hassan Ashkenani, dari Universitas Kuwait menjelaskan temuan kuil yang bersebelahan dengan bangunan administrasi mengisyaratkan pentingnya situs tersebut sebagai pusat keagamaan dan administrasi untuk kerajaan, seperti

Pemegang kekuasaan perdagangan tembaga dan logam

artefak kuil suku arab kuno
artefak kuil suku arab kuno Rapid Travel Chai

Dikutip laman Ancient Origins, Rabu (13/11), Suku Dilmun membangun peradaban kuno yang berkembang pesat sejak 3000 tahun SM. Suku ini mendiami wilayah yang sekarang disebut Bahrain, Arab Saudi bagian timur, dan Kuwait.

Suku Dilmun menjadi pusat perdagangan di jalur yang menghubungkan Mesopotamia, peradaban tertua di dunia dan diyakini menjalin perdagangan dengan situs-situs kuno lainnya seperti Elam di Oman, Alba di Suriah dan Haittan di Turki.

Para pedagang Dilmun memegang monopoli atas perdagangan tembaga, logam pertama yang ditambang oleh manusia yang ditambang di Oman. Tembaga ini kemudian diangkut dan dikirim ke kota-kota Mesopotamia untuk diubah menjadi peralatan, senjata dan barang-barang mewah untuk kemudian dijual-belikan.

Sistem kepercayaan bangsa Dilmun memiliki banyak kesamaan dengan sistem kepercayaan di Mesopotamia dan Mesir kuno. Kepercayaan terhadap kehidupan setelah kematian ditunjukkan dengan menguburkan jenazah beserta harta benda seperti perkakas, makanan, wadah minum, dan emas bahkan senjata.

Para ahli memperkirakan pulau ini semacam objek wisata alami bagi masyarakat Dilmun pada waktu itu, karena lokasinya yang strategis pertemuan Tigris dan Efrat.

Terlepas dari lokasi yang yang strategis, pulau ini terkenal dengan hasil pertaniannya dan kesuburannya. Oleh karena itu pulau ini memunculkan mitos pulau Failaka mungkin adalah Taman Eden yang mistis.

Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti

Rekomendasi