Tanda-tanda kehidupan terdeteksi di bawah reruntuhan gedung pencakar langit di Bangkok, Thailand, pada Senin (31/3/2025), tiga hari setelah gempa bumi besar mengguncang Asia Tenggara dan menewaskan sedikitnya 2.000 orang. Hal itu dideteksi ketika tim penyelamatan dan pencarian (SAR) mengintensifkan operasi pencarian guna menyelamatkan korban yang masih terjebak di tengah puing-puing bangunan.
Wakil Gubernur Bangkok, Tavida Kamolvej, menegaskan bahwa upaya penyelamatan harus dipercepat mengingat peluang korban bertahan hidup menurun drastis setelah melewati batas waktu kritis 72 jam pascabencana. Demikian sebagaimana dilansir Reuters.
"Kami harus bergerak cepat. Operasi penyelamatan tidak akan berhenti, bahkan setelah 72 jam berlalu," ujar Tavida.
Foto-foto yang diperoleh Reuters memperlihatkan tim SAR gabungan terus berupaya melakukan penyelamatan korban yang tertimpa reruntuhan beton bangunan. Berbagai alat berat tampak diterjunkan untuk mempercepat dan mempermudah proses pencarian.
Selain itu, mesin pemindai canggih dan anjing pelacak juga dikerahkan untuk menyisir lokasi bencana. Sementara, tim SAR terus berupaya mengakses area di mana tanda-tanda kehidupan terdeteksi.
Mulai dari langit terang sampai gelap, tim SAR terus bekerja. Mereka berpacu dengan waktu untuk bisa menyelamatkan korban.
Reuters melaporkan, pada Senin (31/3), tim penyelamat kembali menemukan satu jenazah di bawah reruntuhan gedung pencakar langit tersebut. Dengan demikian, jumlah korban tewas akibat runtuhnya bangunan tersebut menjadi 12 orang.
Secara keseluruhan, korban jiwa di Thailand telah mencapai 19 orang. Sementara, 75 orang lainnya masih dinyatakan hilang di lokasi proyek konstruksi yang terdampak parah.