Boeing Akui 737 MAX Bermasalah Sebelum Lion Air dan Ethiopian Airline Jatuh

Selasa, 7 Mei 2019 19:42 Reporter : Merdeka
Boeing Akui 737 MAX Bermasalah Sebelum Lion Air dan Ethiopian Airline Jatuh Boeing 737 MAX. ©REUTERS/Matt Mills McKnight

Merdeka.com - Produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, mengetahui adanya masalah pada pesawat 737 MAX, namun terindikasi tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya--bahkan jauh sebelum kecelakaan Lion Air JT 610 terjadi pada Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines ET 302 pada Maret 2019.

Boeing, usai dua kecelakaan itu, telah mengakui bahwa sistem peringatan yang seharusnya menjadi fitur standar pada setiap armada "tidak dapat dioperasikan di semua pesawat."

Tetapi, sebuah pernyataan yang rilis pada Minggu 5 Mei 2019 menggambarkan garis waktu yang mengganggu, terutama perihal bagaimana pihak berwenang di perusahaan tersebut telah menyadari dan memutuskan kapan untuk bertindak memitigasi masalah yang telah ada sedari awal pada 737 MAX, demikian seperti dikutip dari CNN, Senin (6/5).

Kendati demikian, tetap dalam pernyataan yang sama, Boeing menyatakan menyatakan bahwa masalah perangkat lunak "tidak berdampak buruk terhadap keselamatan atau operasi pesawat."

Sampai saat ini, masih tidak diketahui apakah masalah pada fitur yang dimaksud benar-benar berdampak langsung dalam kecelakaan Lion Air JT 610 yang menewaskan seluruh 346 penumpang dan kru; atau Ethiopian Airlines ET 302 yang juga merenggut 157 nyawa semua orang di dalam.

Namun, data yang muncul dari fitur tersebut --yang sedari awal telah malfungsi-- bisa memberikan informasi yang salah kepada pilot, sehingga mungkin memicu mereka menerima pesan bahwa ada kesalahan dalam sistem pesawat.

Dalam kedua kecelakaan (ET 302 dan JT 610) investigasi awal menunjukkan: sensor Angle of Attack (AOA) yang sedari awal sudah malfungsi mengeluarkan data yang keliru sehingga memicu perangkat lunak anti-stall bernama MCAS aktif.

Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang aktif memicu pesawat melakukan nose-dive (hidung menukik) sebagai sebuah protokol keselamatan --setelah melakukan pembacaan sensor AOA yang keliru.

Padahal, pada kondisi sebenarnya, pesawat sedang tidak dalam kondisi yang membutuhkan protokol keselamatan MCAS.

Namun, para pilot (seluruhnya berpengalaman) terlanjur kewalahan dengan informasi yang keluar dari sensor dan protokol keselamatan yang mendadak berfungsi. Mereka kemudian berjuang keras melakukan tindakan untuk mendapatkan kendali kontrol pesawat. Namun nahas, pesawat tetap jatuh menukik ke laut (JT 610) atau daratan (ET 302).

Boeing mengatakan, kepemimpinan seniornya dan Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) tidak tahu-menahu tentang masalah itu sampai setelah Lion Air jatuh pada Oktober 2018.

Dan, usai kecelakaan Lion Air, baik Boeing dan FAA sama sekali tidak melakukan tindak lanjut apapun, sampai kecelakaan kedua 737 MAX milik Ethiopian Airlines terjadi pada Maret 2019.

Pada kecelakaan kedua itulah badai kritik semakin deras dan tajam menerjang Boeing. Hingga pada akhirnya, pemerintah AS turun tangan mendesak firma penerbangan itu untuk mengandangkan semua 737 MAX di seluruh dunia --menciptakan masalah keuangan dan logistik untuk tiga maskapai utama AS, sementara Boeing terus bekerja untuk memperbaiki masalah tersebut.

Reporter: Rizki Akbar Hasan

Sumber: Liputan6.com [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini