Sidang Dewan Keamanan PBB digelar pada Jumat, di mana AS memilih memveto usulan gencatan senjata di Gaza.
Amerika Serikat (AS) memveto resolusi Dewan Keamanan PBB terkait gencatan senjata segera di Jalur Gaza, Palestina. Israel kembali membombardir Gaza sejak gencatan senjata tujuh hari berakhir 1 Desember lalu.
Sebanyak 13 anggota Dewan Keamanan memberikan suara mendukung rancangan resolusi singkat tersebut, yang diajukan oleh Uni Emirat Arab pada hari Jumat, sementara Inggris abstain.
Sumber: Al Jazeera
Pemungutan suara di dilakukan setelah Sekjen PBB Antonio Guterres mengambil langkah yang sangat langka, memperingatkan 15 anggora Dewan Keamanan terkait ancaman global dari perang yang berlangsung di Gaza.
Advertisement
"Walaupun AS dengan kuat mendukung perdamaian yang bertahan lama di mana keduanya yaitu Israel dan Palestina bisa hidup dalam perdamaian dan keamanan, kami tidak mendukung seruan gencatan senjata segera. Ini hanya akan menanam benih untuk perang berikutnya, karena Hamas tidak punya keinginan untuk perdamaian yang bertahan lama, untuk melihat solusi dua negara," kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Robert Wood.
AS dan Israel menolak gencatan senjata karena menurut mereka itu hanya akan menguntungkan Hamas.
Foto: Dubes AS untuk PBB, Robert Wood menolak gencatan senjata (Charly Triballeau/AFP)
Menurut PBB, agresi Israel di Gaza telah menyebabkan 88 persen populasi di wilayah terkepung itu mengungsi, terjadi kelangkaan makanan, bahan bakar, air, dan obat-obatan, serta ancaman penyakit.
"Tidak ada perlindungan yang efektif bagi warga sipil," kata Guterres kepada Dewan Keamanan PBB pada Jumat.
Guterres juga mengatakan rakyat Gaza diminta berpindah ke berbagai tempat yang diklaim Israel lebih aman di dalam wilayah tersebut, tapi pada kenyataannya tidak ada tempat yang aman di Gaza.
Advertisement
Langkah AS menolak gencatan senjata ini dikecam berbagai pihak, disebut sikap AS ini menunjukkan standar ganda negara tersebut.
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas mengatakan veto AS tersebut sama dengan AS terlibat dalam kejahatan perang di Gaza, menyebut AS bertanggung jawab atas darah anak-anak, perempuan, dan para lansia yang ditumpahkan dalam agresi Israel tersebut.
Anggota biro politik Hamas, Izzat Al-Risheq juga mengecam keras AS, menyebut langkah AS itu "tidak etis dan tidak manusiawi" dab AS terlibat dalam pembantaian dan pembersihan etnis rakyat Palestina di Gaza.
Advertisement
Sumber: Al Jazeera
"Membenarkan berlanjutnya pertempuran sambil mengklaim peduli dengan nyawa dan keselamatan rakyat Gaza adalah bertentangan dengan diri sendiri. Membenarkan berlanjutnya pertempuran sementara sambil menganjurkan pencegahan dampak lanjutan dari konflik adalah tindakan yang menipu diri sendiri. Membiarkan berlanjutnya pertempuran sambil menyebutkan perlindungan perempuan dan anak-anak serta hak asasi manusia adalah sebuah tindakan munafik. Semua ini sekali lagi menunjukkan kepada kita apa itu standar ganda," jelas perwakilan permanen China untuk PBB, Zhang Jun.