Mantan Presiden FIFA Kritik Format Piala Dunia 2026, Sebut AS Dapat Terlalu Banyak Pertandingan
Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengkritik format Piala Dunia 2026, karena Amerika Serikat mendapatkan jumlah pertandingan yang terlalu banyak.
Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, memberikan kritik tajam terhadap format Piala Dunia 2026. Ia menyoroti ketidakadilan dalam pembagian jumlah pertandingan di antara tiga negara tuan rumah serta keputusan untuk memperluas turnamen menjadi 48 tim.
Piala Dunia 2026 akan dilaksanakan secara bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan total 104 pertandingan yang direncanakan. Dari total tersebut, Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah untuk 78 laga, termasuk semua pertandingan setelah babak 16 besar. Ketiga negara tersebut akan menyelenggarakan laga fase grup di stadion masing-masing. Meksiko dijadwalkan untuk membuka turnamen pada 11 Juni melawan Afrika Selatan di Mexico City.
Blatter, yang kini berusia 89 tahun, berpendapat bahwa ketimpangan dalam pembagian pertandingan ini tidak sesuai dengan semangat pengembangan sepak bola. Ia juga mengungkapkan bahwa adanya kedekatan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino, telah mengubah sepak bola menjadi arena politik.
"Ini tidak benar," ungkap Blatter dalam wawancara yang dirilis pada hari Sabtu oleh Radio Canada.
"Dengan menyatukan tiga (tuan rumah) tersebut, orang akan mengira mereka akan mendapatkan porsi yang kurang lebih sama," tambahnya.
AS Paling Diuntungkan
Blatter juga mengungkapkan kritiknya terhadap perluasan turnamen Piala Dunia yang kini melibatkan 48 tim. "Itu tidak baik. Dan bermain di tiga negara bahkan lebih buruk, terutama karena dua dari negara tersebut hanya menerima remah-remah," cetus Blatter.
Ia menekankan bahwa dalam penyelenggaraan Piala Dunia kali ini, pihak yang paling diuntungkan adalah Amerika Serikat, bukan para penonton. "Piala Dunia tidak seharusnya diselenggarakan di negara yang tidak memberikan visa (kepada semua orang)," ujarnya.
FIFA menolak untuk memberikan komentar ketika dihubungi oleh The Athletic. Diketahui bahwa Amerika Serikat menerapkan sejumlah larangan perjalanan terhadap warga dari negara-negara tertentu, termasuk empat negara, yaitu Senegal, Pantai Gading, Iran, dan Haiti, yang telah berhasil lolos ke Piala Dunia sejak pemilihan Trump kembali terpilih.
Ini menimbulkan pertanyaan mengenai keadilan dan aksesibilitas bagi semua tim dan penggemar yang ingin menyaksikan pertandingan secara langsung.
Blatter dan Isu Kontroversial yang Menyertainya
Sepp Blatter menjabat sebagai presiden FIFA dari tahun 1998 hingga 2015. Ia kemudian dikenakan sanksi larangan beraktivitas di dunia sepak bola selama delapan tahun akibat penyelidikan yang dilakukan oleh komite etik FIFA.
Tuduhan yang dilayangkan oleh FIFA dan otoritas Swiss menyatakan bahwa terdapat pembayaran sebesar dua juta franc Swiss yang merupakan bagian dari skema untuk menjamin Blatter terpilih kembali sebagai presiden FIFA pada tahun 2011.
Meskipun ia membantah semua tuduhan tersebut, pada Maret 2025, pengadilan banding Swiss menyatakan bahwa Blatter tidak bersalah atas pelanggaran finansial. Dengan keputusan tersebut, reputasinya sebagai pemimpin dalam dunia sepak bola mendapat sedikit angin segar setelah masa yang penuh kontroversi.
Kritik Hubungan Trump dan Infantino
Dalam kesempatan yang sama, Blatter menyampaikan kritik terhadap hubungan antara Trump dan Infantino. Pada hari Kamis lalu, keduanya menandatangani kemitraan resmi yang berkaitan dengan program regenerasi di Gaza. Infantino terlihat mengenakan topi merah bertuliskan "USA" dengan angka "45-47", yang merujuk pada dua periode kepresidenan Trump yang tidak berurutan.
"(Hubungan Trump dan Infantino) telah mengubah permainan untuk Piala Dunia," ujar Blatter.
"Kami belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya," ketika ditanya mengenai pemberian FIFA Peace Prize perdana kepada Trump.
Blatter juga mengungkapkan pandangannya tentang peran FIFA dalam memberikan penghargaan tersebut.
"Kami bermain untuk perdamaian. Bukan tugas (FIFA) untuk membagikan Penghargaan Perdamaian. Sepak bola adalah peristiwa sosial, budaya, dan akar rumput."
Ia menegaskan, "Mengubah sepak bola menjadi politik, karena pada dasarnya itulah yang sedang terjadi sekarang, bagi saya tidak dapat dipahami."
Sementara itu, International Olympic Committee (IOC) pada hari Minggu menyatakan bahwa Infantino tidak melanggar aturan netralitas politik.
Sumber: The Athletic