Ivan Gunawan Akui Merasa Tenang dan Tidak Kepanasan saat Wukuf, Nikmati Kebesaran Allah dengan Penuh Rasa Syukur

Ivan Gunawan membagikan pengalaman berharga saat melaksanakan ibadah haji, terutama saat berada di Arafah untuk wukuf.

Zulfa Ayu Sundari
Oleh Zulfa Ayu Sundari - Reporter
Ivan Gunawan Akui Merasa Tenang dan Tidak Kepanasan saat Wukuf, Nikmati Kebesaran Allah dengan Penuh Rasa Syukur
Potret Ivan Gunawan di Depan Kabah (instagram.com/ivan_gunawan) (© 2025 Liputan6.com)

Ivan Gunawan berbagi pengalaman spiritualnya saat melaksanakan ibadah haji dalam program For Your Pagi (FYP). Momen yang paling berkesan bagi Ivan adalah saat ia menjalani wukuf di Arafah, yang merupakan puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji.

Dalam diskusinya, Ivan mengungkapkan bahwa pada awalnya ia tidak begitu memahami teknis keberangkatan, termasuk jenis visa yang diperlukan.

"Sebenarnya gue nggak ngerti apa itu visa furoda, atau visa apa, visa apa, nggak tahu, nggak punya pengalaman. Yang penting datang ke travel, daftar, kirim persyaratannya, akhirnya bisa berangkat," ujarnya dengan santai.

Setibanya di Tanah Suci, Ivan merasa sedih ketika mendengar bahwa beberapa sahabatnya tidak bisa berangkat.

"Pas sampai sana dapat kabar Ruben nggak berangkat, Wendy nggak berangkat. Jadi rasanya kayak, 'Ya Allah, kasihan banget'," kata Ivan.

Meskipun demikian, ia tetap bersyukur karena selama berada di Madinah hingga di Masjidil Haram, semua kegiatan berlangsung dengan tertib dan teratur. Pengalaman ini memberikan makna yang mendalam bagi Ivan, dan ia merasa beruntung bisa menjalani ibadah haji meskipun ada beberapa kendala yang dihadapi.

Puncak perjalanan spiritual Ivan terjadi ketika ia melaksanakan wukuf di Arafah. Ia mengisahkan tentang suasana di dalam tenda yang diubah menjadi seperti taman, di mana ia bersama jemaah lainnya berkumpul, berdoa, dan menanti saat matahari terbenam.

Dalam momen tersebut, Ivan merasakan sesuatu yang mendalam. "Itu ada momen dalam hati, sudah nggak tahu lagi mau berdoa apa, jadi cuma menikmati kebesaran Allah," kenangnya dengan penuh haru, menunjukkan betapa besar pengaruh pengalaman itu dalam hidupnya.

Suatu momen yang mengharukan terjadi ketika seorang ustaz meminta para jemaah untuk saling memeluk anggota keluarga yang ada di samping mereka. Ivan, yang datang tanpa kehadiran orang tuanya, merasakan kesedihan mendalam karena tidak dapat memeluk ibunya.

"Orangtua gue nggak ikut, emak gue nggak ada, sedih banget, berasa sendirinya. Akhirnya aku chat mama, minta keikhlasan mama," ucapnya. Ketidakhadiran orang tua dalam momen tersebut membuatnya merasa sangat kesepian dan kehilangan.

Perasaan Ivan mencerminkan kerinduan yang mendalam terhadap ibunya. Dalam situasi yang seharusnya penuh kebahagiaan ini, ia justru merasakan kesedihan yang mendalam. Momen tersebut menjadi pengingat akan pentingnya kehadiran orang-orang tercinta dalam setiap langkah hidup. Meskipun ia tidak bisa memeluk ibunya secara langsung, komunikasi melalui pesan singkat menjadi cara baginya untuk tetap terhubung dan mencari dukungan emosional.

Meskipun cuaca di Arafah dikenal sangat panas, Ivan merasakan kenyamanan dan ketenangan yang luar biasa.

"Kalau lagi di Arafah tuh kita diam aja begini, kayak napas aja tuh berasa Allah sudah kasih kita kenikmatan. Napas yang enak, dan orang kan suka heboh takut panas berapa derajat, tapi gue biasa aja, nggak kayak panas yang gimana," ungkapnya.

Bagi Ivan, pengalaman spiritual di Arafah adalah momen yang sangat berharga. Ia tidak hanya merasakan keindahan ibadah haji secara fisik, tetapi juga mendapatkan kedamaian batin yang mendalam.

Rekomendasi