Pecinta film Indonesia mungkin dibuat terkejut dengan performa kurang memuaskan film adaptasi A Business Proposal versi lokal. Tayang perdana pada 6 Februari 2025, film ini justru mencatatkan jumlah penonton yang jauh di bawah ekspektasi, hanya berkisar antara 6.894 hingga 10.035 penonton di hari pertama.
Bandingkan dengan film lain yang tayang di hari yang sama, seperti Petaka Gunung Gede yang sukses meraup lebih dari 140.000 penonton. Minimnya jumlah penonton film 'A Business Proposal' diduga karena kontroversi yang terjadi pada bintang utamanya, Abidzar Al Ghifari.
Advertisement
Perbedaan angka penonton A Business Proposal versi Indonesia dari berbagai sumber, antara 6.894 hingga 10.035, mungkin disebabkan perbedaan metode pengumpulan data atau waktu pelaporan. Namun, terlepas dari perbedaan angka tersebut, satu hal yang pasti yakni jumlah penontonnya jauh lebih rendah dari perkiraan.
Lalu, apa yang menyebabkan kegagalan film ini menarik perhatian penonton? Banyak pihak menduga kuat kontroversi yang melibatkan aktor utama, Abidzar Al Ghifari, menjadi penyebab utamanya. Pernyataan-pernyataan kontroversial yang dilontarkan Abidzar, termasuk pengakuannya bahwa ia belum menonton drama Korea aslinya, memantik reaksi negatif dari para penggemar K-Drama.
Advertisement
Reaksi negatif tersebut berujung pada seruan boikot terhadap film A Business Proposal versi Indonesia. Banyak penggemar K-Drama yang kecewa dan memilih untuk tidak menonton film adaptasi ini sebagai bentuk protes.
Meskipun Falcon Pictures, rumah produksi film tersebut, telah mengeluarkan permintaan maaf atas kontroversi yang terjadi, tampaknya dampaknya sudah terlanjur signifikan. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi Falcon Pictures.
Kontroversi yang melibatkan Abidzar Al Ghifari bukan hanya merusak citra film, tetapi juga berdampak langsung pada pendapatan. Dengan jumlah penonton yang sangat rendah di hari pertama, diperkirakan jumlah penonton di hari-hari berikutnya akan semakin menurun.