Ketika teknologi kecerdasan buatan digunakan untuk peretasan

Ketika teknologi kecerdasan buatan digunakan untuk peretasan. Kejahatan siber akan selalu berkembang pesat. Mereka berinovasi untuk menggebrak pertahanan siber target yang dituju. Tahun depan, diprediksikan model penyerangan akan semakin inovatif.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ketika teknologi kecerdasan buatan digunakan untuk peretasan
Ilustrasi Hacker. ©2014 Merdeka.com

Kejahatan siber akan selalu berkembang pesat. Mereka berinovasi untuk menggebrak pertahanan siber target yang dituju. Tahun depan, diprediksikan model penyerangan akan semakin inovatif. Tak tanggung-tanggung, machine learning (ML) dan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan (AI) dijadikan peretas untuk melakukan strategi penyerangan.

“Tren ini bakal lebih kuat di tahun 2018,” ungkap David Rajoo, Director Systems Engineering Malaysia & Indonesia, Symantec kepada awak media di Jakarta, Selasa (12/12).

Dikatakannya, insiden seperti serangan WannaCry yang berdampak pada lebih dari 200.000 komputer di seluruh dunia pada Mei lalu, hanyalah pemanasan untuk tahun baru lahirnya serangan malware dan DDOS yang lebih berbahaya.

“Para pelaku kriminal siber siap meningkatkan serangan yang dilancarkan ke jutaan perangkat yang terhubung ke Internet of Things,” kata dia.

Awalnya, AI dan ML berfokus pada penggunaan teknologi sebagai mekanisme perlindungan dan deteksi. Namun, tren tersebut akan berubah dengan AI dan ML digunakan oleh penjahat siber guna melancarkan serangnnya.

“Aksi ini merupakan tahun pertama di mana kita akan melihat AI vs AI dalam konteks keamanan siber. Para penjahat siber akan menggunakan AI untuk menyerang dan mengeksploitasi jaringan korban,” terang dia.

Rekomendasi