Selama Perang Dunia ke II, para ilmuwan militer dari dua belah pihak yakni pihak Poros di antaranya Nazi Jerman dan pihak Sekutu yang termasuk di dalamnya AS, mencari cara untuk bisa memenangkan perang dengan meningkatkan teknologi perang. Berbagai jenis roket pembawa bom dan juga berbagai teknologi angkatan udara diciptakan di masa tersebut.
Namun salah satu ide dari militer AS ternyata tak seberapa canggih, yakni bom kelelawar. Benar, letak kecanggihan dari bom kelelawar mungkin hampir tidak ada.
Dikembangkan oleh Lytle S. Adams dan disetujui penggunaannya oleh presiden Roosevelt, bom kelelawar adalah sebuah bom besar yang kosong namun diisi penuh oleh kelelawar hidup. Bom ini diberi nama Project X-Ray.
Cara kerja dari bom ini cukup unik, di mana kinerjanya juga memanfaatkan kondisi fisiologis kelelawar. Pada ketinggian tertentu, bom ini akan membuka dan kelelawar yang bangun dari tidur karena udara hangat, akan menyerang dalam jumlah ribuan.
Setiap kelelawar ini dilengkapi dengan kantung kecil dengan 17 gram bom napalm ada di dalamnya. Ketika kelelawar ini mendarat di pohon atau rumah, bom kecil ini akan meledak dan membakar semuanya. Proyek ini sukses besar dan jadi salah satu strategi utama Amerika di Perang Dunia ke II.
Ribuan kelelawar tanpa ekor diimpor dari Meksiko hanya untuk membuat bom ini. Namun pada akhirnya proyek ini dipensiunkan karena AS lebih tertarik untuk berinvestasi ke bom nuklir. Tentu bom nuklir lebih menarik karena daya ledak yang tinggi, meskipun soal dampak radiasi ke berbagai prajurit, juga limbahnya tak terlalu dipikirkan.