Ini 10 profil Capim KPK, siapa yang akan dipilih?
Merdeka.com - Panitia seleksi (Pansel) calon pimpinan KPK telah menyerahkan 8 nama calon pimpinan KPK kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah menjaring dan tes wawancara terbuka dari ratusan nama kandidat yang mendaftar. Kedelapan nama tersebut sudah dibagi menjadi empat bidang yang ada dalam KPK yakni pencegahan, penindakan, manajemen, dan supervisi koordinasi monitoring.
Dari empat bidang tersebut, masing-masing bidang memiliki dua calon pimpinan KPK. Nantinya, DPR akan melakukan fit and proper test bersama dua calon pimpinan KPK lainnya yang telah melakukan fit and proper test yaitu Busyro Muqoddas dan Robby Arya Brata. Sehingga ada 10 kandidat yang akan memperebutkan empat posisi pucuk pimpinan di lembaga antirasuah.
Berikut 10 profil calon pimpinan KPK yang dihimpun oleh merdeka.com dari berbagai sumber, Rabu (2/9):
Saut Situmorang
Seorang staf ahli yang sudah 20 tahun bekerja untuk Badan Intelijen Negara (BIN) Thony Saut Situmorang berhasil lolos dan ditetapkan sebagai calon Komisioner KPK bidang Pencegahan. Thony saat ini masih tercatat sebagai dosen S2 Kajian Strategik Intelijen Universitas Indonesia (UI).
Ternyata, tak hanya sekali ini saja dia mencoba peruntungan sebagai pimpinan KPK. Pada tahun 2007 dan 2010 dia ternyata pernah ikut seleksi, namun di dua kesempatan itu dia tidak terpilih, sehingga kembali memutuskan mengikuti seleksi calon pimpinan KPK pada tahun 2015 ini.
Saut juga diketahui menjabat sebagai Direktur PT Indonesia Cipta Investama. Latar belakangnya yang seorang anggota BIN sempat membuat tim Pansel KPK menaruh curiga dengan niatannya maju sebagai calon pimpinan KPK. Selain itu, tim Pansel juga menanyakan aktivitas dari Perusahaan yang dipimpin oleh Saut. Tim Pansel sempat mencecar Saut perihal kegiatan apa yang dilakukan perusahaan pribadinya itu.
Surya Tjandra
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memberikan rekomendasi untuk Calon Pimpinan KPK yang lolos di bidang Pencegahan ini. Ahok mengaku terkesan dalam beberapa momentum pertemuannya dengan pengacara publik ini. Saat wawancara terbuka dengan tim Pansel KPK, Surya juga mengutarakan telah mendapatkan dukungan dari Ahok untuk menjabat sebagai pimpinan KPK. Bahkan, saat itu, dia mengaku punya banyak kemiripan dengan mantan Bupati Belitung Timur itu. Lebih jauh, dia menyatakan bahwa Ahok adalah panutannya.
Aktivis LSM buruh yang juga berprofesi sebagai dosen ini juga diketahui merupakan tim sukses dari Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014 lalu. Hal ini juga dicecar oleh anggota tim Pansel KPK Enny Nurbaningsih saat wawancara tahap akhir seleksi calon pimpinan KPK. Saat itu, Enny mencecar apakah Surya dapat memisahkan kepentingannya sebagai Presiden terpilih apabila duduk sebagai pimpinan KPK. Surya menegaskan dan mengaku akan bersikap independen apabila terpilih sebagai pimpinan lembaga antirasuah.
Alexander Marwata
Alexander Marwata adalah hakim ad hoc Pengadilan Tipikor dari masyarakat umum. Sebelumnya dia adalah salah satu auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Marwata juga pemegang Certified Fraud Examiner (CFE), sertifikasi internasional bagi spesialis pencegahan dan pemberantasan penipuan.
Marwata dikenal sebagai salah seorang hakim Tipikor yang kerap menyatakan dissenting opinion, atau pendapat berbeda, dengan hakim lainnya. Salah satu kasus besar di mana dia menyatakan pendapat berbeda adalah kasus suap Pilkada Lebak, Banten, dengan terdakwa Ratu Atut Chosiyah. Saat itu, dia menilai Atut tidak terbukti melakukan korupsi dan harus dibebaskan.
Brigjen Basaria Panjaitan
Pengajar Sekolah Staf dan Pimpinan Polri di Lembang, Jawa Barat, Brigjen Basarian Panjaitan menjadi satu-satunya calon pimpinan KPK yang lolos seleksi yang merupakan latar belakang dari Kepolisian. Saat memutuskan maju sebagai calon pimpinan KPK, dia mendapatkan dukungan dari mantan atasannya di Kalemdikpol yang kini menjabat sebagai Wakapolri Komjen Pol Budi Gunawan.
Satu-satunya perempuan di calon pimpinan KPK ini merupakan seorang Polwan yang berpengalaman di bidang reserse. Namun, lolosnya Polwan yang akan memasuki masa pensiun pada Desember 2015 ini mendapatkan kecaman. Salah satunya, datang dari Direktur Lingkar Mardani Indonesia (Lima) Ray Rangkuti yang ragu apabila seorang polisi duduk sebagai pimpinan KPK karena takut akan tumpang tindih dalam memberantas korupsi. Selain itu, Ray menilai nama Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie lebih pantas lolos ketimbang Basarian Panjaitan karena sudah terbukti pro terhadap pemberantasan korupsi.
Agus Rahardjo
Kepala Lembaga Kebijakan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) yang lolos di calon pimpinan KPK bidang management ini mengaku hanya memiliki uang RP 20 juta di empat rekening miliknya. Namun, saat wawancara seleksi tahap akhir dengan tim Pansel KPK, Agus diketahui memiliki banyak tanah di beberapa daerah. Dalam wawancara yang digelar terbuka itu diketahui dia juga tak patuh mengisi Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN). Data terakhir yang ia laporkan merupakan LHKPN tahun 2012.
Agus sendiri sudah malang melintang di LKPP selama sepuluh tahun. Sebelumnya, dia merupakan Direktur Sistem & Prosedur Pendanaan, Bappenas. Dia pernah melontarkan usul menarik untuk mencegah maraknya korupsi di Indonesia. Usul itu antara lain memberi kesempatan masyarakat bisa meludahi para koruptor. (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya