Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, Syaiful Bahri, mendorong masyarakat untuk mengembangkan bisnis peternakan ayam petelur. Inisiatif ini bertujuan sebagai solusi konkret pemulihan ekonomi pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut.
Syaiful Bahri menyatakan kesiapannya untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam budidaya ayam petelur kepada warga Aceh Tamiang. Hal ini disampaikan di sela-sela kegiatan panen telur perdana di usaha peternakannya di Air Masin, Seruway.
Langkah ini diharapkan dapat membangkitkan semangat UMKM di tengah masyarakat yang terdampak. Bisnis ini dinilai memiliki prospek ekonomi yang cerah untuk jangka panjang.
Advertisement
Advertisement
Syaiful Bahri melihat adanya prospek ekonomi yang menjanjikan dari sektor peternakan ayam petelur di Aceh Tamiang. Oleh karena itu, ia berinisiatif mengajak masyarakat yang baru tertimpa musibah banjir bandang untuk bangkit melalui pengembangan UMKM ini.
Dirinya secara pribadi bersedia membagikan pengetahuan dan pengalaman budidaya ayam petelur kepada warga yang berminat. Ini menunjukkan komitmen untuk memberdayakan ekonomi lokal.
Usaha peternakan ayam petelur yang dibangun di pesisir Seruway ini merupakan hasil studi banding. Syaiful Bahri melakukan kunjungan ke sentra peternakan di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang, Sumatera Utara, pada awal tahun 2025 lalu.
Advertisement
Model ini kemudian diimplementasikan di Aceh Tamiang sebagai percontohan bagi masyarakat. Bisnis ini menjadi yang pertama dikembangkan di daerah tersebut, membuka peluang baru.
Advertisement
Syaiful Bahri saat ini memiliki lima kandang ayam tipe V dengan total kapasitas 21 ribu ekor. Dari jumlah tersebut, dua kandang sudah terisi sekitar 10 ribu ekor ayam petelur.
Dari 10 ribu ekor ayam, sekitar 3.000 ekor atau 30 persen di antaranya sudah mulai bertelur. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat setiap minggunya.
Diproyeksikan dalam dua minggu ke depan, lebih dari 80 persen ayam akan mulai bertelur. Hal ini berpotensi menghasilkan sekitar 4.000 butir telur per hari, menunjukkan skala produksi yang signifikan.
Advertisement
Ia menekankan bahwa keberhasilan usaha peternakan sangat bergantung pada manajemen yang diterapkan. Kerugian seringkali disebabkan oleh pengelolaan yang kurang tepat, bukan semata-mata faktor eksternal.
Advertisement
Untuk membangkitkan UMKM di tengah keterbatasan pascabencana, Syaiful Bahri menyarankan skema kerja sama antara pemerintah kabupaten dan legislatif. Ini akan memastikan bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan.
Dalam skema ini, masyarakat diharapkan dapat menyediakan kandang secara mandiri. Sementara itu, pemerintah daerah dapat mengucurkan bantuan pakan dan obat-obatan.
DPRK Aceh Tamiang, melalui program pokok pikiran atau aspirasi, dapat menyalurkan bantuan bibit ayam (pullet). Kolaborasi ini penting agar masyarakat tidak berjuang sendirian.
Advertisement
Menurut Syaiful Bahri, bantuan harus tepat sasaran agar masyarakat benar-benar bisa bangkit dan berkembang. Mengandalkan masyarakat untuk berkembang sendiri dinilai berat, terutama bagi pelaku UMKM menengah.
Sumber: AntaraNews