Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, baru-baru ini mengumumkan rencana strategis untuk memperkuat sektor unggulan melalui Kerja Sama Regional Bali NTB NTT. Inisiatif ini diharapkan mampu menciptakan sinergi antarprovinsi, sehingga dapat saling melengkapi kebutuhan dan potensi yang ada.
Pertemuan penting yang melibatkan Gubernur NTT Melki Laka Lena, Gubernur Bali I Wayan Koster, dan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal telah berlangsung di Denpasar, Bali. Diskusi ini menjadi bagian integral dari agenda Rencana Kerja Sama Regional Bali, NTB, dan NTT (KR-BNN) yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi daerah.
Melki Laka Lena menjelaskan bahwa wilayah Bali dan Nusa Tenggara memiliki keunggulan signifikan di bidang pariwisata, ekonomi kreatif, serta industri pengolahan. Dengan memperkuat konektivitas antarpulau, dampak ekonomi yang dihasilkan diprediksi akan sangat besar dan berkelanjutan bagi seluruh kawasan.
Advertisement
Advertisement
Penguatan Kerja Sama Regional Bali NTB NTT berfokus pada pemanfaatan potensi lokal untuk memenuhi kebutuhan internal kawasan. Gubernur Melki Laka Lena menyoroti contoh konkret di mana NTT selama ini harus membeli komoditas pinang dari Jambi, padahal ketersediaan komoditas tersebut ada di NTB dan Bali.
“Kenapa kita harus beli dari Jambi, padahal di NTB dan Bali ini. Prinsipnya, kita harus saling memenuhi kebutuhan satu sama lain di kawasan ini,” tegas Melki Laka Lena. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kemandirian regional dan efisiensi rantai pasok.
Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar kawasan dan meningkatkan nilai tambah produk lokal. Dengan demikian, sektor-sektor seperti pariwisata, ekonomi kreatif, dan industri pengolahan dapat berkembang lebih pesat dan terintegrasi.
Advertisement
Advertisement
Selain fokus pada komoditas, Gubernur NTT juga menekankan pentingnya pengembangan hilirisasi industri secara merata di setiap provinsi, sesuai dengan potensi unggulan masing-masing. Proses ini harus tetap terkoordinasi secara regional untuk mencapai efisiensi maksimal.
Sebagai contoh, industrialisasi peternakan dapat dipusatkan di salah satu provinsi yang memiliki keunggulan komparatif, sehingga lebih efisien dan terintegrasi. Pendekatan ini akan mendorong spesialisasi dan peningkatan kualitas produk di seluruh kawasan.
Melki Laka Lena juga membahas potensi besar energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki NTT. Provinsi ini memiliki kapasitas listrik tenaga surya sebesar 63 megawatt dari berbagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), yang dapat berkontribusi signifikan bagi pengembangan energi bersih di Kawasan Timur Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Meskipun potensi Kerja Sama Regional Bali NTB NTT sangat besar, ada beberapa kendala utama yang perlu diatasi, terutama terkait akses penerbangan dan konektivitas antarwilayah. Gubernur Melki Laka Lena menyoroti masalah harga tiket pesawat yang mahal dan terbatasnya konektivitas udara antarprovinsi.
“Salah satu isu penting adalah harga tiket pesawat yang mahal, konektivitas udara antar provinsi masih terbatas, padahal mobilitas orang dan barang sangat menentukan kelancaran pariwisata dan ekonomi kawasan,” ungkapnya. Kendala ini menghambat pertumbuhan pariwisata dan pergerakan ekonomi.
Untuk memperkuat citra kawasan dan mengatasi tantangan ini, Gubernur NTT mengusulkan agar ketiga provinsi memiliki branding dan tagline bersama. Hal ini diharapkan dapat menggambarkan kekuatan pariwisata dan budaya Bali–NTB–NTT sebagai satu destinasi terpadu yang menarik bagi wisatawan domestik maupun internasional.
Advertisement
Sumber: AntaraNews