Indonesia Capital Market Student Studies atau ICMSS merupakan salah satu acara untuk memberikan edukasi kepada investor muda baik dari skala internal panitia hingga eksternal. ICMSS memiliki values yang selalu menjadi acuan panitia dalam melaksanakan acaranya yaitu PROFGAN (Professionalism, Family, and Elegance).
ICMSS memiliki 3 rangkaian acara utama yaitu Investment Training, International Capital Market Seminar, dan Equity Research Conference. The 25th ICMSS International Capital Market Seminar merupakan acara seminar yang dibalut dengan topik-topik khusus serta menarik seputar dunia pasar modal dengan tema besar 'The Diverged Trajectory: Reinstating Sovereignty Through Global Disparity'.
Dalam melaksanakan acara ini, ICMSS beberapa kali mengundang pembicara ternama seperti Pahala Mansury, Bambang Soesatyo, Fithra Faisal, dan masih banyak lainnya. The 25th ICMSS telah sukses menyelenggarakan rangkaian acara International Capital Market Seminar Day 1 yang terdiri dari 3 sesi.
Sesi pertama dari International Capital Market Seminar dilaksanakan dengan membawa tema 'From Vision to Value: How Danantara Drives Indonesia’s Growth Strategy' yang dibawakan oleh Randa Silvano Bangun (Senior Vice President, Investments at Danantara Indonesia), Fidel Ramos Sinaga, Harry Aginta.
Sesi pertama dari International Capital Market Seminar membahas bagaimana Danantara membawa strategi pertumbuhan Indonesia.
Sesi ini membahas peran Danantara sebagai sovereign wealth fund dalam mendorong strategi pertumbuhan jangka panjang Indonesia, termasuk pembiayaan proyek strategis, reformasi struktural, serta tantangan tata kelola dan keberlanjutan fiskal. Diskusi menyoroti bagaimana Danantara dapat menjadi pilar ketahanan dan daya saing ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global
Advertisement
Sesi kedua dengan topik 'Broadening Horizons: Navigating Resilience in Indonesia”s Equity Market' menghadirkan Andre Simangunsong, Mark Bruny, dan Genta Wira Anjalu. Sesi ini mengulas ketahanan pasar saham Indonesia di tengah konsentrasi saham berkapitalisasi besar, dengan fokus pada kebijakan makroekonomi, peran regulator, serta strategi investasi untuk menciptakan pasar yang lebih seimbang dan inklusif.
Sesi ketiga dengan topik 'Redefining Value in the New Investment Landscape' menghadirkan Jeffry Jouw, Emir Parengkuan, Faza Verdhana, dan James Eugene.
Diskusi tersebut menekankan pentingnya literasi keuangan, manajemen risiko, serta keseimbangan antara stabilitas, inovasi, dan makna personal dalam lanskap investasi modern. Selanjutnya, saat sesi Press Conference berlangsung, terdapat diskusi komprehensif mengenai dinamika pasar keuangan, ekonomi makro, serta perkembangan industri kripto melalui perspektif akademisi, praktisi, dan pelaku industri.
Falito Villienuve Tandra, President of the 25th ICMSS, menegaskan bahwa ICMSS menjadi wadah pertukaran gagasan strategis yang membahas isu pasar modal, makroekonomi, hingga sektoral dengan menghadirkan para ahli, profesional, dan regulator.
Melalui diskusi tersebut, ICMSS diharapkan dapat memberikan sudut pandang baru serta insight yang relevan bagi para pemangku kebijakan, sehingga hasil edukasi dan yang dihasilkan dapat diterapkan dalam perumusan regulasi ke depan.
Advertisement
Dari sisi outlook pasar, James Eugene, Vice President of Business Development Indodax memproyeksikan pertumbuhan akun kripto yang signifikan hingga sekitar 20 juta akun pada 2025–2026. Meski demikian, ia menyoroti adanya sinyal pelemahan makroekonomi pada paruh pertama tahun, sementara paruh kedua masih dipenuhi ketidakpastian sehingga potensi rebound belum dapat dipastikan.
Menanggapi kondisi pasar saham, Co-Founder Revalue Academy, Faza Verdana menyampaikan bahwa penurunan IHSG lebih disebabkan oleh faktor teknikal, seperti penyesuaian regulasi MSCI, bukan masalah struktural ekonomi. Ia justru melihat kondisi ini sebagai peluang agar pasar Indonesia dapat dinilai lebih positif oleh MSCI dan investor global, serta tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional ke depan.
James Eugene juga menyoroti tantangan industri kripto di tengah lanskap regulasi yang semakin ketat. Menurutnya, pelaku industri perlu terus beradaptasi melalui benchmarking dan inovasi produk agar mampu bersaing dengan broker global. Ia menekankan bahwa keterbatasan produk di pasar domestik serta kompleksitas bahasa dan mekanisme kripto membuat proses regulasi memerlukan waktu dan penyesuaian bertahap, seiring dengan upaya membangun ekosistem yang kompetitif dan berkelanjutan di Indonesia.