Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, baru-baru ini menyuarakan keprihatinannya. Ia mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Hal ini bertujuan mengatasi harga baterai kendaraan listrik yang masih belum terjangkau oleh masyarakat luas.
Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta, pada Rabu, menyoroti tantangan besar. Harga baterai dari produsen resmi atau original equipment manufacturer (OEM) dinilai terlalu tinggi. Kondisi ini dapat membebani konsumen secara signifikan.
Intervensi pemerintah dianggap krusial untuk mencegah terhambatnya laju pertumbuhan. Ekosistem kendaraan listrik di tanah air perlu dukungan penuh. Tanpa itu, potensi besar Indonesia bisa tidak optimal.
Advertisement
Advertisement
Harga baterai mobil listrik yang mahal menjadi salah satu kendala utama bagi adopsi kendaraan ramah lingkungan ini. Kondisi tersebut secara langsung memberatkan konsumen yang tertarik untuk beralih ke kendaraan listrik. Imbasnya, perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia berpotensi melambat.
Kaisar Abu Hanifah menegaskan urgensi intervensi pemerintah dalam isu ini. "Jika tidak ada intervensi, konsumen akan terbebani, dan pertumbuhan mobil listrik bisa tersendat,” kata Kaisar di Jakarta.
Pemerintah diharapkan dapat menemukan solusi untuk mengendalikan harga, baik melalui subsidi maupun regulasi. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa kendaraan listrik dapat diakses oleh lebih banyak lapisan masyarakat. Dengan demikian, target pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dapat tercapai.
Advertisement
Advertisement
Indonesia memiliki posisi strategis dengan cadangan nikel dan bahan baku baterai yang melimpah. Potensi ini seharusnya menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai pasar bagi mobil listrik dan onderdilnya. Sebaliknya, Indonesia harus menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri baterai global.
Pemanfaatan sumber daya alam ini secara optimal dapat memperkuat kemandirian industri nasional. Hal ini juga akan mengurangi ketergantungan pada impor komponen penting. Dengan begitu, nilai tambah ekonomi di dalam negeri dapat meningkat signifikan.
Kaisar menekankan pentingnya pengembangan ekosistem produksi baterai di tanah air. "Pemerintah bersama industri harus mengembangkan ekosistem produksi, termasuk manufaktur baterai pengganti. Dengan begitu, kita bisa mandiri dan bahkan mengekspor,” ujarnya.
Advertisement
Pengembangan industri manufaktur baterai pengganti akan membuka peluang besar. Indonesia dapat menjadi penyuplai baterai tidak hanya untuk pasar domestik. Namun juga untuk pasar internasional, meningkatkan daya saing ekonomi.
Advertisement
Seiring bertambahnya usia kendaraan listrik yang telah dipasarkan, kebutuhan akan penggantian baterai akan meningkat. Ini menciptakan peluang bisnis baru yang signifikan. Pemerintah didorong untuk mengoptimalkan potensi bisnis pergantian baterai mobil listrik di Indonesia.
Mobil listrik keluaran awal kini rata-rata sudah berusia lima tahun lebih. Hal ini menandakan bahwa siklus penggantian baterai akan segera tiba. Kebutuhan tersebut tidak dapat dihindari oleh para pemilik kendaraan listrik.
Menurut Kaisar, kondisi ini harus dilihat sebagai peluang sekaligus tantangan. “Mobil listrik keluaran awal kini rata-rata sudah berusia lima tahun lebih. Itu artinya, kebutuhan pergantian baterai akan menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Pemerintah perlu melihat ini sebagai peluang sekaligus tantangan,” katanya.
Advertisement
Momentum ini diharapkan dapat memicu pertumbuhan industri turunan kendaraan listrik di Indonesia. Ini akan memberikan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan pekerjaan baru, serta memperkuat daya saing nasional dalam sektor otomotif global.
Sumber: AntaraNews