Fenomena tanggal kembar seperti 9.9, 10.10, hingga 11.11 selalu sukses menyihir para pemburu diskon di marketplace. Iming-iming potong harga, voucher, gratis ongkir, hingga flash sale sering kali menjadi alasan ampuh bagi konsumen untuk memindahkan barang dari keranjang belanjaan langsung ke menu checkout.
Bagi sebagian orang, melewatkan tanggal kembar rasanya bagaikan melewatkan kesempatan emas. Perasaan takut kehilangan penawaran murah inilah yang kerap memicu dorongan belanja impulsif.
Aca (21), misalnya. Ia mengaku selalu berusaha memprioritaskan kebutuhan utama. Namun, begitu tanggal kembar tiba dan melihat deretan promo yang menggiurkan, pertahanannya perlahan runtuh. Barang-barang yang awalnya tidak masuk daftar prioritas mendadak terasa wajib dibeli.
"Kalau misalnya nggak beli pas tanggal kembar, kayak sayang banget," ujar Aca.
Rasa "sayang melewatkan promo" itu membuatnya hobi menjelajahi marketplace. Pengalaman yang paling ia ingat adalah saat mengincar sebuah tas. Saat harga normal, tas tersebut dibanderol Rp160 ribu hingga Rp180 ribu. Namun ketika tanggal kembar tiba, harganya anjlok menjadi Rp98 ribu.
"Pas aku lihat harganya jadi Rp98 ribu, itu kan benar-benar kayak, 'Eh, kapan lagi?' Nah, aku langsung checkout di situ," katanya kenang Aca.
Pengalaman serupa dirasakan Nasywa (21). Ia sangat rentan tergoda ketika barang berharga lumayan mahal mendadak banting harga lewat program flash sale. Barang yang dibanderol di atas Rp200 ribu biasanya baru akan ia pinang saat promo tiba. Sayangnya, kebiasaan ini kerap membuatnya tergiur membeli barang yang sebenarnya belum mendesak.
"Kadang kayak, 'Mumpung dia lagi promo nih, kapan lagi?' Jadi akhirnya beli," tutur Nasywa.
Murahnya nominal barang di bawah Rp50 ribu juga menjadi pemicu lain sulitnya menahan diri. Angka yang tergolong kecil kerap memberikan "pemakluman" psikologis untuk tetap bertransaksi.
"Ini nggak nyampe Rp50 ribu, jadi kayak nggak apa-apa kali ya dibeli," lanjutnya.
Advertisement
Sisi Lain Layar Kaca: Lonjakan Transaksi Midnight
Fenomena belanja impulsif ini dibenarkan oleh Damai, seorang host live streaming skincare. Ia menyaksikan sendiri bagaimana antusiasme pembeli mendadak melonjak tajam saat program promo berlangsung.
Menurut Damai, "jam ajaib" transaksi biasanya terjadi pada dini hari, tepatnya pukul 00.00 hingga 02.00 WIB. Pada rentang waktu inilah penjualan melesat drastis dibanding jam-jam biasa.
"Kalau dari pukul 00.00 sampai pukul 02.00 pagi itu peningkatannya memang agak lumayan kelihatan. Misalnya penghasilan normalnya Rp1 juta per jam, pas event bisa melesat jadi Rp4 juta per jam," jelas Damai.
Namun, kejutan omzet ini tidak bertahan sepanjang hari. Saat matahari mulai terbit hingga sore hari, irama transaksi perlahan kembali melambat ke tingkat normal.
Di segmen skincare, produk dalam bentuk paket hemat menjadi primadona. Selain itu, strategi batasan stok flash sale terbukti sangat ampuh memicu efek psikologis Fear of Missing Out (FOMO) pada calon pembeli.
"Misalnya kita cuma kasih kesempatan produk A hanya lima barang untuk flash sale. Jadi itu memikat pembeli untuk segera checkout biar nggak kehabisan harga murahnya," ungkap Damai.
Advertisement
Daya Beli Melemah
Meski promo tanggal kembar masih ampuh menarik perhatian, Damai menangkap adanya perubahan perilaku pasar dalam empat bulan terakhir. Ia merasakan adanya penurunan daya beli konsumen secara umum, baik di hari biasa, payday sale, maupun saat tanggal kembar.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya omzet harian saat promo tanggal kembar sanggup menembus angka ratusan juta rupiah, kini angkanya tak lagi sefantastis dulu.
Kondisi ini memperlihatkan dua sisi dari fenomena tanggal kembar. Di satu sisi, perang diskon dan pancingan flash salememang masih sanggup mendorong konsumen berbelanja secara spontan. Namun di sisi lain, bayang-bayang penurunan daya beli membuat efek magis promo tanggal kembar tak lagi sekuat masa jayanya.