Di Balik Toga Wisuda: Ada Cuti Kerja dan Ribuan Kilometer yang Ditempuh Keluarga

Kisah hangat keluarga wisudawan Unair yang rela menempuh perjalanan 12 jam hingga ajukan cuti kerja demi menyaksikan momen sakral kelulusan sang anak di Surabaya.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
Di Balik Toga Wisuda: Ada Cuti Kerja dan Ribuan Kilometer yang Ditempuh Keluarga
Potret keluarga besar wisudawati Universitas Airlangga, Cindy, saat menghadiri seremonial wisuda.

Momen kelulusan di bangku kuliah bukan cuma milik mereka yang mengenakan toga atau menggenggam ijazah. Di balik senyum sumringah para wisudawan Universitas Airlangga (Unair) hari itu, ada jejak lelah, potongan cuti kerja, hingga alokasi tabungan keluarga yang dikerahkan demi menyaksikan satu detik sakral yang tak terlupakan.

Dari Tangerang, Banten, Anya paham betul arti hadirnya sebuah pelukan hangat keluarga. Demi mengantarnya ke panggung kelulusan di Surabaya, sang ayah rela duduk di balik kemudi mobil, menembus aspal jalan tol selama 12 jam nonstop. Perjalanan panjang itu ditempuh secara perlahan, menyisipkan jeda di beberapa rest area agar stamina sang ayah tetap terjaga.

Pengorbanan itu tak cuma soal fisik. Kedua orang tua dan kakak Anya rela mengajukan cuti kerja, sementara sang adik harus meminta izin dari sekolah. Tak kurang dari Rp4 juta mereka kucurkan demi menutup biaya transportasi dan penginapan hotel selama tiga hari dua malam.

Namun, rasa lelah dan riuhnya biaya menguap begitu saja. Kehadiran ini membawa makna emosional yang amat mendalam. Sang kakak yang lulus di tengah badai pandemi Covid-19 dulu harus merelakan seremoni tatap mukanya. Alhasil, wisuda Anya menjadi pengalaman pertama bagi kedua orang tuanya merasakan langsung hiruk-pikuk dan megahnya atmosfer gedung wisuda.

"Aku bisa berkuliah sampai selesai karena adanya support orang tua. Ini pertama kalinya orang tua bisa hadir langsung, jadi mereka antusias banget buat hadir langsung ke Surabaya," tutur Anya.

Boyongan 12 Anggota Keluarga

Kisah hangat lain bergulir dari Trawas, Mojokerto. Rombongan besar beranggota 12 orang keluarga Cindy kompak meluncur bersama demi mengawal hari bahagia sang wisudawati. Jumlah ini sejatinya belum lengkap, lantaran beberapa kerabat terpaksa batal menyusul akibat terganjal izin kerja dan urusan mendadak. 

Rombongan Cindy bertolak dari Mojokerto sejak pukul 08.00 WIB memakai dua mobil pribadi, padahal seremoni baru dimulai empat jam setelahnya. Kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru pun tak ragu mengambil cuti. Anggaran tak kurang dari Rp1 juta disiapkan khusus untuk operasional di jalan, di luar biaya konsumsi selama di Surabaya. Bagi keluarga Cindy, angka 12 bukan sekadar deretan orang, melainkan simbol besarnya rasa bangga dan tumpuan dukungan moral untuk sang putri.

"Wisuda sarjana menjadi momen sakral bagi keluarga aku. Ini bentuk balasan dan apresiasi kepada aku yang telah berjuang dan menamatkan perkuliahan,” ungkap Cindy penuh haru.

Perjalanan ratusan kilometer, pengeluaran yang tak sedikit, hingga kerelaan menyisihkan kesibukan pekerjaan adalah cara sederhana keluarga merayakan pencapaian sang anak. Sebab, di balik tiap helai toga yang berkibar bangga, ada deretan tangan hangat keluarga yang tak pernah lelah menopang dari awal hingga garis finis.

Rekomendasi