Bagi sebagian besar mahasiswi, hari wisuda bukan sekadar garis akhir dari perjalanan panjang menembus rimba perkuliahan. Momen ini adalah panggung kecil untuk merayakan tiap tetes keringat dan perjuangan bertahun-tahun. Tak heran jika jauh-jauh hari persiapan dirancang matang, mulai dari berburu kebaya impian, memesan jasa makeup artist(MUA), hingga menyiapkan sesi foto bersama orang-orang tersayang.
Demi tampil memesona di hari yang diyakini hanya menyapa sekali seumur hidup, lembaran rupiah yang dikeluarkan pun tak sedikit. Sejumlah wisudawati bahkan rela merogoh kocek hingga menembus angka lebih dari sejuta rupiah demi menyempurnakan hari istimewa tersebut.
Velita, wisudawati Universitas Airlangga asal Jember, menjadi salah satu yang membagikan ceritanya. Untuk keperluan pribadinya di hari wisuda, ia menghabiskan total Rp1.399.000. Jika dirinci, Velita mengeluarkan Rp385.000 untuk jasa MUA dan hair stylist yang dipanggil langsung ke kamar hotelnya. Penampilannya kian lengkap dengan kebaya baru seharga Rp391.000, heels Rp299.000, serta sematan tusuk rambut anggun senilai Rp39.000.
Bukan cuma urusan molek paras dan busana, Velita juga menyiapkan anggaran khusus demi merekam kebahagiaan itu. Ia menyewa fotografer profesional selama satu jam seharga Rp185.000 untuk mengabadikan pose hangat bersama keluarga dan sahabat terdekat.
Meski tabungan berkurang hampir Rp1,4 juta, Velita tersenyum lega dan menganggap setiap sen yang keluar sangat sepadan dengan memori yang tercipta. Baginya, wisuda bukan sekadar seremoni penerimaan ijazah, melainkan bentuk apresiasi tertinggi untuk diri sendiri setelah berhasil menuntaskan garis finis di bangku kuliah.
Advertisement
Over Budget Hampir Dua Kali Lipat Demi Tampil Membahana
Cerita berbeda datang dari Tisha, wisudawati Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ia justru mengaku pengeluaran untuk kebutuhan wisudanya membengkak hingga Rp1.750.000, jauh di atas perkiraan awal yang berada di bawah Rp1 juta.
Rincian biaya yang disiapkannya meliputi jasa MUA dan hijab Rp250.000, perintilan seperti softlens dan fake nails Rp200.000, serta tas dan heels sebesar Rp300.000. Sementara itu, kebaya dan hijab dibelinya seharga Rp500.000. Tisha sengaja membeli kebaya berdesain timeless agar dapat dikenakan kembali di kesempatan lain.
Meski begitu, tidak semua persiapan berjalan mulus. Sesi pemotretan seharga Rp500.000 terasa kurang maksimal karena terbatasnya waktu di tengah riuhnya tradisi arak-arakan wisuda.
"Waktu selesai seremoni wisuda itu kan di prodi aku pasti ada arak-arakan, nah itu bikin aku harus curi-curi waktu buat sesi foto bareng fotografernya. Jadi, waktu itu kita agak buru-buru gitu jadinya," cerita Tisha.
Meski pengeluarannya membengkak hampir dua kali lipat dari perkiraan awal, Tisha tetap merasa biaya tersebut sepadan dengan pengalaman yang didapatkan. Baginya, beberapa kekurangan selama persiapan maupun pelaksanaan wisuda tidak menghilangkan kebahagiaan di hari tersebut.
Terlebih, momen wisuda menjadi penanda berakhirnya perjalanan sebagai mahasiswa sekaligus kesempatan untuk merayakan pencapaian bersama orang-orang terdekat.
Kisah Velita dan Tisha menunjukkan bahwa persiapan menuju hari wisuda dapat membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama untuk kebutuhan penampilan dan dokumentasi. Namun, bagi keduanya, pengeluaran tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan kenangan di salah satu momen penting dalam perjalanan pendidikan mereka.