Perubahan siklus ekonomi dan ancaman resesi kerap memicu kecemasan bagi para investor. Namun, merombak portofolio secara mendadak atau mengambil keputusan panik berdasarkan rumor harian justru bisa merusak rencana keuangan jangka panjang.
Para ahli sangat menyarankan investor untuk menghindari praktik market timing, yakni kebiasaan keluar-masuk pasar saat emosi bergejolak. Sebaliknya, langkah terbaik adalah membangun portofolio investasi yang seimbang.
"Saat resesi, fokus utamanya bukanlah mencari satu jenis investasi yang sempurna. Yang terpenting adalah membangun kombinasi aset yang membuat Anda bisa tidur tenang, tetap bertahan dalam investasi, dan siap saat kondisi membaik," tegas Dan Pascone, pendiri Tailored Wealth.
Sebagai panduan, berikut 5 pilihan aset investasi yang tergolong aman di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu dikutip dari Investopedia:
Advertisement
1. Emas Emas
Emas berfungsi sebagai aset safe haven untuk meredam potensi kerugian di pasar saham, terutama saat terjadi krisis geopolitik atau lonjakan inflasi. Meski begitu, alokasikan emas dalam porsi yang proporsional, misalnya melalui ETF emas berbiaya rendah untuk sekadar sebagai pelindung portofolio, bukan sebagai satu-satunya penampung kekayaan Anda.
Advertisement
2. Saham Dividen (Dividend Stocks)
Saham dari perusahaan yang rutin membagikan dividen mampu menghasilkan arus kas secara berkala sekaligus menahan guncangan pasar. Syaratnya, pilih saham dari perusahaan dengan kondisi keuangan yang solid serta rekam jejak dividen yang stabil. Fokuslah pada fundamental dan kelancaran arus kas perusahaan, bukan sekadar mengejar persentase hasil (yield) paling tinggi.
Advertisement
3. Obligasi Negara
Obligasi negara menawarkan tingkat risiko yang relatif minim karena pembayaran kupon dan pokoknya dijamin penuh oleh pemerintah. Meski imbal hasilnya cenderung moderat, instrumen ini tetap jauh lebih menguntungkan dibanding bunga tabungan bank biasa.
Obligasi sangat cocok bagi pemula. Pastikan Anda memperhatikan jangka waktu atau tanggal jatuh temponya agar kalkulasi imbal hasil bisa lebih akurat.
Advertisement
4. Kas atau Setara Kas
Pilihan seperti deposito dan reksa dana pasar uang menawarkan imbal hasil yang cukup menarik dengan tingkat risiko rendah. Dana simpanan ini memberi fleksibilitas serta likuiditas tinggi untuk memenuhi kebutuhan darurat jangka pendek (6–16 bulan), sekaligus memberi ruang bagi Anda untuk membeli aset murah saat pasar diskon.
Namun, hindari memegang uang tunai terlalu banyak dalam jangka panjang agar nilai kekayaan tidak tergerus inflasi atau tertinggal saat pasar mulai pulih.
Advertisement
5. Valuta Asing (Dolar AS)
Dalam situasi geopolitik dan ekonomi global yang fluktuatif, Dolar AS sering kali menguat terhadap mata uang negara berkembang seperti Rupiah. Memiliki tabungan atau portofolio dalam valuta asing berdenominasi Dolar AS dapat menjadi pelindung nilai (hedging) yang memberikan nilai tambah bagi investor.
Pada akhirnya, melakukan penataan ulang portofolio (rebalancing) secara berkala jauh lebih efektif untuk melindungi aset dari risiko ekonomi dibanding sekadar menebak-nebak arah pergerakan pasar.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani