10 Wanita di Atas 50 Tahun Paling Berpengaruh di Investasi

Forbes merilis 50 Over 50. Ini 10 wanita di atas 50 tahun dengan kiprah besar di investasi, dari bos Deloitte hingga CRO OpenAI. Simak profil ringkasnya.

Cahya Alena Fauza
Oleh Cahya Alena Fauza - Reporter
10 Wanita di Atas 50 Tahun Paling Berpengaruh di Investasi
<p>Ilustrasi Wanita Karir Credit: freepik.com</p>

Wanita kerap menghadapi stereotip saat menua. Pada awal 2026, survei menunjukkan 70% wanita merasa semakin tidak terlihat seiring bertambahnya usia. Forbes menghadirkan narasi berbeda lewat daftar tahunannya, 50 Over 50, yang menonjolkan capaian para perempuan di atas usia 50 tahun.

Dalam edisi 2026, daftar ini dibagi ke empat kategori: dampak, inovasi, investasi, dan gaya hidup. Dilansir dari Forbes, Jumat (21/8/2026), para figur yang terpilih dinilai menorehkan pekerjaan paling ambisius dan berdampak di usia 50 tahun ke atas.

Berikut 10 wanita berusia 50+ yang dinilai paling berpengaruh di kategori investasi versi Forbes 2026.

Wanita 50+ Paling Berpengaruh di Investasi

Deretan nama berikut memimpin perusahaan jasa profesional, koperasi kredit, dana investasi, hingga teknologi kecerdasan buatan. Profil singkatnya menyoroti peran, skala aset yang dikelola, serta kiprah kunci mereka.

  1. Lara Abrash (58), Chairman Deloitte

    Lara Abrash memimpin dewan direktur Deloitte AS, organisasi layanan profesional terbesar di negara tersebut, dengan 180.000 tenaga profesional dan pendapatan tahunan lebih dari US$ 30 miliar, atau Rp 535,6 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.853). Sejak dipilih pada 2023, ia menakhodai Deloitte dalam perkembangan pesat artificial intelligence (AI), teknologi baru, dan perubahan dunia kerja. Abrash juga memimpin Deloitte Foundation.

  2. Beverly Anderson (62), Presiden & CEO BECU

    Seorang veteran layanan keuangan, Beverly Anderson memimpin BECU sejak 2022. Koperasi kredit ini memiliki aset hampir US$ 30 miliar, atau Rp 535,6 triliun, serta 1,4 juta nasabah, menjadikannya salah satu dari lima koperasi kredit teratas di AS. Sebelumnya, Anderson memimpin divisi solusi konsumen global Equifax dan memegang jabatan pimpinan di Wells Fargo serta American Express. Ia juga duduk di dewan Expedia dan Harvard Business School African-American Alumni Association.

  3. Hilda Applbaum (65), Principal Investment Officer & Portfolio Manager, Capital Group

    Hilda Applbaum memimpin American Funds Income Fund of America milik Capital Group senilai US$ 145 miliar, atau Rp 2.590 triliun, salah satu reksa dana teratas di kategorinya. Menurut Morningstar, selama 15 tahun, reksa dana ini mencatat imbal hasil rata-rata 8,6% per tahun dan mengungguli 98% reksa dana sejenis, termasuk imbal hasil 17,8% berdasarkan NAV pada 2025 yang melampaui indeks acuan. Dengan pengalaman investasi empat dekade, salah satu strateginya adalah membeli saham dividen dari perusahaan yang tengah kesulitan lalu menunggu, kadang bertahun-tahun, hingga pemulihan.

  4. Leigh Brady (60), CEO State Employees’ Credit Union (SECU)

    Leigh Brady meniti karier dari akuntan entry-level hingga menjadi pemimpin wanita pertama SECU di Carolina Utara. Kini ia mengawasi koperasi kredit terbesar kedua di AS, dengan 3 juta nasabah di Carolina Utara dan aset sekitar US$ 60 miliar, atau Rp 1.072 triliun. Brady ditunjuk sebagai CEO pada 2023 setelah sebelumnya menjabat chief operating officer, chief human resources, dan communications officer.

  5. Jane Buchan (62), Pendiri & CEO Martlet Asset Management

    Jane Buchan membangun dua perusahaan sukses di investasi alternatif dan hedge fund. Pada 2000, ia mendirikan Pacific Alternative Asset Management Company (PAAMCO), yang berkembang menjadi PAAMCO Prisma dengan aset US$ 32 miliar, atau Rp 571,9 triliun. Pada 2018, PAAMCO memisahkan strategi beta alternatifnya menjadi Martlet Asset Management, hedge fund swasta yang dipimpin Buchan sebagai CEO dan co-CIO. Pada 2025, ia juga menjadi Chairman Standards Board for Alternative Investments, aliansi beranggotakan 150 manajer aset alternatif dan lebih dari 100 investor institusional.

  6. Wendy Cai-Lee (52), Pendiri & CEO Piermont Bank

    Wendy Cai-Lee berusia 45 tahun saat mendirikan Piermont Bank pada 2019 dan menjadi wanita Asia-Amerika pertama yang meluncurkan bank komersial di AS. Piermont dirancang untuk entrepreneur, bisnis bertumbuh pesat, serta aplikasi fintech, termasuk platform finansial tempat kerja, Stream. Kini ia memimpin bank dengan aset US$ 500 juta, atau Rp 8,9 triliun. Sebelumnya, Cai-Lee menghabiskan hampir tiga dekade di layanan keuangan dengan peran di JPMorgan Chase, Citi, Deloitte, dan East West Bank.

  7. Margaret Chen (58), Global Head of Endowment & Foundation Practice, Cambridge Associates

    Selama 25 tahun di Cambridge Associates, Margaret Chen berperan sebagai investor pada organisasi dengan aset US$ 616 miliar, atau Rp 11.007 triliun. Tugasnya mengawasi kemitraan perusahaan dengan yayasan dan nirlaba untuk meningkatkan dana abadi. Sebelumnya, ia memimpin divisi portofolio CIO yang dikelola pihak ketiga. Di luar profesi, Chen adalah Chairman Boston Youth Symphony Orchestras dan anggota Advisory Council for the Beach Museum of Art di Kansas State University.

  8. Ellen Cooper (61), Presiden & CEO Lincoln Financial

    Sempat bercita-cita menjadi bintang Broadway, Ellen Cooper beralih dari jurusan tari ke bisnis, lalu berkarier di Tillinghast, EY, dan Goldman Sachs. Sejak bergabung dengan Lincoln pada 2012, ia menghabiskan lebih dari 14 tahun di posisi pimpinan dan menakhodai perusahaan melayani lebih dari 17 juta pelanggan serta mengatur lebih dari US$ 32 miliar, atau Rp 571,6 triliun, di saldo rekening.

  9. Tracie Cordeiro (51), Presiden & CEO Friendship Bridge

    Tracie Cordeiro memimpin Friendship Bridge, organisasi nirlaba yang menyediakan keuangan mikro, edukasi, dan layanan kesehatan preventif bagi perempuan di pedesaan Guatemala melalui model Microcredit Plus. Rata-rata pinjaman sekitar US$ 320, atau Rp 5,7 juta, dipadukan dengan pelatihan dan dukungan, serta tingkat pelunasan hampir 98% untuk membantu ketahanan finansial keluarga. Seorang akuntan publik bersertifikat, Cordeiro pernah memegang jabatan pimpinan di KPMG, Honeywell, dan Opera Australia.

  10. Denise Dresser (55), Chief Revenue Officer OpenAI

    Denise Dresser bergabung dengan OpenAI sebagai chief revenue officer pada bulan Desember dan mengawasi strategi pendapatan untuk perusahaan induk ChatGPT yang berkembang pesat. Kini, OpenAI meraih pendapatan US$ 2 miliar, atau Rp 35,7 triliun setiap bulan, dengan 40% di antaranya berasal dari pelanggan korporat, mengungguli raksasa industri seperti Meta dan Alphabet. Sebelumnya, Dresser 14 tahun berkarier di Salesforce, terakhir sebagai CEO di Slack yang diakuisisi pada 2021. Ia juga pernah menjadi konsultan di firma akuntansi Arthur Andersen.

Rekomendasi