Harga emas menguat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada Jumat (21/8/2026) waktu setempat, atau Sabtu waktu Jakarta. Logam mulia ini juga berada di jalur kenaikan mingguan tiga pekan beruntun, didorong tembusnya level teknis kunci dan pelemahan dolar AS seiring rencana pembelian kembali (buyback) obligasi oleh Departemen Keuangan AS.
Di pasar spot, harga emas naik 2,3% ke US$ 4.619,57 per ounce, sementara emas berjangka AS melesat 2,4% ke US$ 4.680,60, dikutip dari CNBC, Sabtu (22/8/2026). Sepanjang pekan, emas menguat sekitar 5%, termasuk mencatat lonjakan harian terbesar sejak awal Februari pada perdagangan Rabu.
Dari sisi teknikal, harga bergerak di atas seluruh moving average utamanya setelah menembus rata-rata 200 hari yang diawasi ketat di kisaran US$ 4.513. Analis teknikal menilai penembusan tersebut sebagai sinyal bullish bagi pergerakan berikutnya.
Advertisement
Dolar Melemah Usai Rencana Buyback, Harga Emas Terangkat
Nilai tukar dolar AS tertahan di dekat level terendah sejak pertengahan Mei. Investor mempertanyakan efektivitas upaya Departemen Keuangan AS menstabilkan pasar obligasi melalui program buyback, yang dinilai berisiko menggerus kepercayaan terhadap mata uang tersebut.
Pada Kamis, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah dapat memperluas program buyback obligasi. Pernyataan itu muncul sehari setelah kementerian mengumumkan rencana melipatgandakan pembelian kembali obligasi berjangka panjang.
"Faktor besarnya, tentu saja, adalah teknikal, langkah selanjutnya adalah menuju US$ 4.700 jika momentum ini berlanjut. Namun, saya pikir kenaikan ini juga sangat didorong oleh melemahnya dolar AS," ujar Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, Bart Melek.
Advertisement
Spekulasi Suku Bunga dan Opsi Beli Dorong Harga Emas
"Permintaan opsi beli (call option) emas melonjak tajam di tengah tingginya kembali permintaan atas perlindungan kebijakan makro global, yang secara mekanis memperkuat lonjakan maupun penurunan harga," ungkap Goldman Sachs dalam catatan risetnya.
Menurut Goldman Sachs, berkurangnya keyakinan pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga AS setelah The Fed menahan suku bunga pada Juli, ditambah rilis data ekonomi yang melemah, membangkitkan kembali minat spekulatif pada emas COMEX serta permintaan ETF emas yang sensitif terhadap suku bunga.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa lonjakan minat terhadap opsi beli berpotensi memperbesar pergerakan harga, baik saat reli maupun koreksi.
Advertisement
Permintaan Fisik Asia dan Aksi Polandia
Dari pasar fisik, lonjakan harga terbaru menahan minat pembeli eceran di India.
Adapun permintaan di China sebagai konsumen emas terbesar dilaporkan tetap stabil.
Data yang dirilis Jumat menunjukkan bank sentral Polandia memperlambat pembelian emasnya menjadi 7,8 ton metrik pada Juli.