Nilai tukar rupiah pada Kamis (16/7) bergerak menguat 5 poin atau 0,03 persen menjadi Rp18.063 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.068 per USD.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa menyatakan, rupiah memperoleh sentimen positif dari pernyataan Bank Indonesia (BI).
"Tidak terdapat rilis data ekonomi utama yang secara langsung memengaruhi pergerakan rupiah. Namun, sentimen positif datang dari pernyataan Bank Indonesia yang menegaskan telah memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore sejak April 2026," ungkap dia seperti ditulis Antara, Kamis (16/7).
BI juga disebut menyampaikan bahwa pemantauan pasar valuta asing dilakukan secara berkelanjutan melalui kantor perwakilan di luar negeri serta didukung perluasan instrumen operasi moneter.
Langkah tersebut memberikan keyakinan kepada pelaku pasar bahwa BI memiliki instrumen yang memadai untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
Advertisement
Dolar AS Melemah
Rupiah juga memperoleh dukungan dari melemahnya dolar AS setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (Indeks Harga Konsumen). Mengutip Anadolu, inflasi konsumen tahunan AS melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026 yang di bawah ekspektasi pasar karena penurunan tajam harga energi mendorong penurunan bulanan terbesar sejak April 2020. Tingkat inflasi tahunan melambat dari 4,2 persen pada Mei 2026.
Indeks Harga Konsumen turun 0,4 persen pada Juni dari bulan sebelumnya pasca naik 0,5 persen pada Mei. Adapun inflasi inti, tak berubah secara bulanan dan melambat jadi 2,6 persen per tahun dari 2,9 persen pada Mei.
"Ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Kondisi tersebut menekan permintaan terhadap dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat," tutup Amru.