PDB Ekonomi Kreatif RI Capai Rp1.757 Triliun, Kini Dilirik Industri Perbankan

Tingginya potensi ini menandakan bahwa tantangan utama industri bukan lagi pada permintaan pasar, melainkan pada pengembangan model bisnis.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
PDB Ekonomi Kreatif RI Capai Rp1.757 Triliun, Kini Dilirik Industri Perbankan
<p>PT Bank Amar Indonesia Tbk atau Amar Bank ( AMAR).</p>

PT Bank Amar Indonesia Tbk (Amar Bank) mendorong kesiapan finansial industri kreatif, khususnya perfilman, melalui integrasi tata kelola berbasis teknologi. Berkolaborasi dengan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) sebagai pusat ekosistem perfilman nasional, langkah ini bertujuan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan bagi ekonomi kreatif di Indonesia.

Inisiatif Amar Bank ini merespons potensi besar ekonomi kreatif nasional yang mencatatkan tren positif. Pada 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif mencapai Rp1.757,87 triliun atau tumbuh 6,86 persen (year-on-year), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.

Subsektor film, animasi, dan video menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan tersebut. Industri layar lebar nasional berhasil menguasai 58 persen pangsa pasar box office dengan 82,9 juta penonton sepanjang 2025, sekaligus membuka sekitar 387.000 lapangan kerja.

Tingginya potensi ini menandakan bahwa tantangan utama industri bukan lagi pada permintaan pasar, melainkan pada pengembangan model bisnis yang mampu membangun kepercayaan lembaga keuangan.

Selama ini, pendekatan underwriting perbankan umumnya bertumpu pada proyeksi arus kas (cash flow) dan kepastian agunan (collateral). Di sisi lain, aset utama industri film berupa Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) belum memiliki standar valuasi finansial seperti aset fisik.

Guna menjembatani kesenjangan tersebut, Amar Bank menyusun model analisis pembiayaan yang lebih adaptif. "Amar Bank melihat industri kreatif memiliki karakter bisnis yang unik dan umumnya berbasis proyek. Karakter inilah yang coba kita pahami lewat penyediaan teknologi keuangan adaptif. Untuk itu, Amar Bank memilih pendekatan nurturing, di mana teknologi kami mendampingi pemilik usaha di sektor kreatif agar menjadi bankable dan siap mengakses layanan keuangan," ucap Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane di Jakarta, Minggu (9/8).

Rapikan Catatan Keuangan

Implementasi pendekatan tersebut diwujudkan melalui platform digital Amar Bank Bisnis. Melalui integrasi teknologi ini, para pelaku usaha dapat merapikan pencatatan keuangan, membangun rekam jejak transaksi, memperkuat tata kelola internal, hingga mengelola dokumen operasional secara terpadu.

"Saat kedisiplinan dan transparansi finansial terbentuk, sistem perbankan dapat mengukur tingkat kelayakan kredit (creditworthiness) secara presisi. Semakin kuat dan rapi tata kelola usahanya, semakin besar peluang serta fleksibilitas pembiayaan produktif yang dapat disalurkan," ujar Josua.

Melalui strategi ini, Amar Bank berharap pertumbuhan industri film tidak hanya melahirkan karya-karya kompetitif, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi seluruh rantai pasok, mulai dari rumah produksi hingga UMKM pendukung.

Sebagai langkah lanjutan, Amar Bank bersama JAFF menjadwalkan forum diskusi yang melibatkan enam asosiasi profesi di industri perfilman. Diskusi kelompok ini diharapkan dapat mengakselerasi inklusi keuangan di sektor perfilman secara menyeluruh.

"Dengan partisipasi Amar Bank dan JAFF, kami mengajak para pemangku kepentingan di industri kreatif, baik asosiasi maupun pembuat kebijakan, untuk berkolaborasi bersama membangun industri film yang semakin bankable dan memperluas akses pembiayaan produktif bagi ekonomi kreatif Indonesia," tutup Josua.

Rekomendasi