Di tengah kepungan produk impor, PT Virtue Diagnostics Indonesia mengambil langkah agresif. Tak sekadar menjual alat medis, melainkan membangun basis produksi lokal skala besar di Cikarang. Langkah strategis ini menjadi kunci utama untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional sekaligus merealisasikan potensi Indonesia sebagai pusat manufaktur In Vitro Diagnostics (IVD) di Asia Tenggara.
Langkah investasi ini didasari komitmen untuk meretas tantangan geografis Indonesia agar seluruh masyarakat bisa mengakses layanan diagnostik berkualitas.
"Indonesia adalah negara dengan tantangan geografis yang sangat unik. Ribuan pulau, populasi yang besar, dan masih terbatasnya akses layanan diagnostik di berbagai daerah membutuhkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga diproduksi secara lokal. Karena itu, kami memilih untuk membangun manufaktur di Indonesia, bukan sekadar menjual produk ke Indonesia," ujar Mr. Johnson Zhang, Founder & Global CEO Virtue Diagnostics di Jakarta, Jumat (7/8).
Melalui pabrik seluas 12.200 meter persegi yang diresmikan Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin pada 2024, perusahaan telah memproduksi platform diagnostik lokal berteknologi tinggi dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melampaui 40 persen dan mengantongi izin edar untuk 193 produk.
Produk-produk ini langsung menopang program nasional seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG), eliminasi tuberkulosis 2030, hingga skrining kanker serviks.
"Kami percaya Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat manufaktur IVD di Kawasan Asia Tenggara. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan industri melalui kebijakan yang mendukung investasi jangka panjang, pengadaan berbasis nilai (value-based procurement), perlindungan terhadap produk dengan TKDN tinggi, kontrak pengadaan multi-tahun, serta komunikasi yang lebih erat sebelum implementasi kebijakan baru," tambah Johnson Zhang.
Advertisement
enetrasi Pasar Swasta hingga Tembus Ekspor
Masuk ke pasar nasional pada 2024 bukan hal mudah di tengah gempuran merek global kawakan dan penurunan belanja pemerintah pada alat kesehatan.
"Kami menyadari bahwa memasuki pasar Indonesia pada tahun 2024 bukanlah perjalanan yang mudah. Selain menghadapi kondisi pasar yang menantang, kami juga harus membangun kepercayaan terhadap produk IVD lokal di tengah dominasi merek-merek global yang telah hadir selama puluhan tahun," jelas Dr. Kurniasari Endah, M.M., Associate Commercial Director PT Virtue Diagnostics Indonesia.
Guna mengatasi tantangan tersebut, perusahaan mengalihkan fokus pada ekspansi sektor swasta, mulai dari rumah sakit hingga laboratorium klinik. Strategi ini terbukti efektif. Hingga pertengahan 2026, lebih dari 150 unit instrumen diagnostik dan 31.000 kit reagen buatan lokal berhasil terserap di dalam negeri.
Tak berhenti di pasar domestik, keandalan mutu bersertifikasi ISO 13485 ini membawa reagen VIRTUEDX dan instrumen VERCENTRA buatan Cikarang resmi diekspor ke Filipina.
"Pencapaian ini menjadi bukti bahwa produk IVD hasil manufaktur Indonesia mampu bersaing dari sisi kualitas, performa, maupun keandalannya. Kami bangga karena semakin banyak tenaga kesehatan yang mempercayakan pelayanan diagnostiknya kepada produk buatan dalam negeri," pungkas Dr. Kurniasari.
Melalui kombinasi R&D, kapasitas manufaktur unggulan, dan kolaborasi lintas sektor, Virtue Diagnostics membuktikan bahwa industri alat kesehatan dalam negeri mampu berdiri mandiri dan bersaing di tingkat global.