Chief Content Officer (CCO) KapanLagi Youniverse (KLY) sekaligus perwakilan keluarga Arie Basuki, Wenseslaus Manggut, turun langsung ke Carita, Banten, untuk memantau pencarian rombongan jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda. Kehadirannya di lapangan dilakukan berulang kali, beriringan dengan proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
Ia menuturkan, keterlibatan dirinya tidak semata terkait jabatan, melainkan juga kedekatan personal dengan Arie Basuki yang sudah terjalin sejak lama. "Saya mungkin tidak bisa mewakili sepenuhnya keluarganya Mas Arie. Saya mewakili Arbas, bahwa saya mengenal baik Arie sejak lama," tutur Wens saat mendapatkan kesempatan membagikan refleksinya sebagai perwakilan keluarga Arie Basuki dalam kegiatan doa bersama di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (21/9).
Wenseslaus menambahkan, keduanya pernah menjadi rekan liputan. "Ya, dia kawan liputan saya sejak saya bekerja di Majalah Tempo. Berkali-kali juga ditugaskan bareng ke wilayah-wilayah yang rasanya juga kurang lebih sama," tambah Wens.
Wenseslaus tercatat tiga kali mendatangi Pantai Carita untuk mengikuti proses pencarian lima jurnalis: M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Arie Basuki (merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (jurnalis lepas), beserta tiga awak kapal. Pada hari kedua pencarian, ia berada di lokasi bersama Pemimpin Redaksi Merdeka.com, Wisnoe Moerti, dan Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Titis Widyatmoko.
Ia menggambarkan derasnya arus informasi selama pencarian. "Itu sudah tinggal di sana di Carita bersama keluarga di satu tempat ya. Dan kami merasakan betul kehilangan itu, sekaligus proses yang menanti informasi banyak sekali. Informasi yang datang dari nelayan, informasi dari orang yang tahu peta lokal, informasi yang dari mana saja," ujar Wens.
Wenseslaus menyebut informasi-informasi tersebut segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah setempat dan Basarnas. Ia juga menyoroti peran Pewarta Foto Indonesia (PFI) yang membantu di lapangan. "Dan kami terima kasih sekali karena pemerintah lokal dan Basarnas menelusuri semua jenis informasi itu. Kami juga terima kasih sekali untuk teman-teman dari PFI, karena teman-teman benar-benar kelihatan upayanya juga di lapangan," kata Wens.
Pada kesempatan berbeda, Wenseslaus kembali ke Carita bersama Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, pada Sabtu (12/9/2026). "Saya kira juga kita melihat pemerintah lokal dan Basarnas berusaha sekuat tenaga mencari," ujar Wens.
Ia juga hadir pada hari kesepuluh, saat Tim SAR gabungan resmi menutup operasi pencarian lima jurnalis dan tiga ABK. "Ketika diumumkan pada hari kesepuluh bahwa pencarian dihentikan, semua yang mencari menangis, ya. Entah merasa bahwa pencarian itu gagal, entah merasa bahwa pencarian itu mungkin tanpa rasa letih," tutur dia.
Advertisement
Apresiasi untuk Arie Basuki dan Rekan-rekan
Di mata Wenseslaus, kelima jurnalis yang belum kembali merupakan fotografer berpengalaman, termasuk Arie Basuki. Ia mengaku tersentuh mendengar kabar penghargaan yang diterima Arie tak lama sebelum bertugas meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Saya terenyuh teman kami, Arie Basuki, minggu itu diberitahu bahwa dia mendapat penghargaan dari WAN-IFRA sebagai pembuat foto terbaik, dan memang belum diserahkan penghargaannya, entah di Singapura atau di Malaysia, kami belum tahu," ujar Wens.
Wenseslaus juga menyinggung materi presentasi rekan-rekan fotogafer yang menurutnya menunjukkan kecerdasan dan sudut pandang khas. "Dan kalau saya baca juga materi presentasinya, saya lupa itu materinya Donal atau siapa, teman-teman ini orang-orang cerdas. Materinya judulnya Keindahan Jurnalistik. Kita bisa melihat jurnalisme atau profesi ini dari banyak sudut. Teman-teman ini mungkin melihatnya dari mata kamera mereka," kata Wens.
Diketahui, trilogi foto karya Arie Basuki berjudul "Resilient Indonesia: Humanity Beyond the Headlines" dinyatakan sebagai salah satu pemenang dalam kategori Best in Human Interest Photography pada WAN-IFRA Award 2026.
Advertisement
Pengalaman Wens Saat Liputan di Wilayah Rawan
Dalam kesempatan yang sama, Wenseslaus membagikan pengalamannya meliput peristiwa penting di area berbahaya. Ia menuturkan pernah berupaya masuk ke Pulau Sipadan dan Ligitan pada Desember 2002, saat kedua pulau di Laut Sulawesi itu menjadi objek sengketa antara Indonesia dan Malaysia.
"Desember tahun 2002, saya berusaha masuk ke Pulau Sipadan dan Ligitan. Persis pulau itu ketika sedang direbut antara Malaysia dan Indonesia. Dijaga ketat oleh Marinir, dan satu-satunya peluang saya untuk masuk ke pulau itu adalah dari dermaga, dan dermaga itu berada di dalam kawasannya Marinir, ya," ujar Wens.
Ia menambahkan upaya tersebut hanya berlangsung singkat karena kendala di lapangan. "Karena saya merasa bahwa saya harus masuk, saya berusaha mencari segala cara untuk bisa masuk di sana. Walaupun kemudian itu perjalanannya 3 jam dari daratan Semporna ke Pulau Sipadan dan Ligitan itu, berujung bahwa saya cuman semalam di situ karena ditahan oleh Marinir Malaysia," tutur dia.
Menurutnya, ada perasaan yang kerap menyertai jurnalis saat bertugas di wilayah rawan, yakni keyakinan bahwa penantian akan berujung pada pertemuan.
"Nah, saya merasakan bahwa mungkin perasaan yang sama dan saya kira perasaan kalau kita liput ke daerah-daerah itu perasaannya itu sama," ucap Wens.
"Dan saya merasakan juga bahwa perasaan teman-teman yang berangkat ini juga mungkin sama. Dan selalu ada harapan untuk tiba dalam kata penantian. Dan selalu ada harapan untuk bertemu," pungkasnya.