Strategi BI Antisipasi Era Suku Bunga Tinggi di Tengah Ketidakpastian Global

Dalam kondisi tersebut, BI menilai menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar keuangan domestik menjadi langkah penting agar perekonomian nasional.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Strategi BI Antisipasi Era Suku Bunga Tinggi di Tengah Ketidakpastian Global
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengikuti rapat kerja dengan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/6/2023). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Bank Indonesia (BI) mengantisipasi era suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) setelah The Federal Reserve AS mempertahankan suku bunga acuannya dan memberikan sinyalemen belum ada pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

Pejabat Gubernur BI sementara (PGS) Destry Damayanti mengatakan, hasil Federal Open Market Comittee (FOMC) The Fed AS pekan ini, mengindikasikan kebijakan moneter AS masih cenderung hawkish karena perekonomian domestik AS dinilai tetap kuat.

Kondisi itu, kata Destry, akan berpengaruh terhadap perekonomian global yang akan menghadapi era suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) terutama negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Hal ini akan berdampak pada berbagai instrumen keuangan, baik obligasi pemerintah (government bonds) maupun aset keuangan lainnya. Situasi tersebut tentu akan memberikan dampak kepada negara-negara lain, khususnya emerging markets, termasuk Indonesia sebagai bagian dari kelompok tersebut," ujar Destry dalam paparannya secara daring di editors briefing di Prapat, Sumatera Utara, Jumat (31/7).

Ia menjelaskan lingkungan suku bunga global yang tinggi akan mempengaruhi pergerakan arus modal, imbal hasil obligasi pemerintah, serta nilai aset keuangan di berbagai negara. Karena itu, kata dia, Bank Indonesia harus memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga dan aset keuangan domestik tetap menarik sehingga tidak terjadi keluarnya arus modal asing.

"Karena itu fokus kami adalah stabilisasi, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi," katanya.

Soroti Sikap The Fed

Selain sikap The Fed, ketidakpastian global juga masih dipengaruhi berbagai konflik geopolitik yang berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dunia seperti negosiasi konflik Timur Tengah, sehingga menjadi tantangan bagi banyak bank sentral.

Dalam kondisi tersebut, BI menilai menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar keuangan domestik menjadi langkah penting agar perekonomian nasional tetap resilien atau berdaya tahan. Untuk domestik, BI ingin menjaga inflasi sesuai sasaran, sedangkan eksternal Bank Sentral mengupayakan segala cara agar stabilitas nilai tukar terjaga.

"Saat ini memang salah satu tantangan yang dalam jangka pendek ini benar-benar harus menjadi perhatian dari kami di Bank Indonesia adalah bagaimana menjaga stabilitas itu," ujar dia. 

Sejalan dengan kondisi tersebut, Bank Sentral juga sudah memutuskan mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Juli ini sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan memitigasi dampak ketidakpastian ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia.

Dampak dari ketetapan BI rate itu, kata Destry, harga aset domestik, termasuk surat berharga negara (SBN) dan sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI), meningkat dan menarik aliran modal masuk.

"Di awal minggu ini kita sudah melihat arus modal asing masuk yang nilainya itu relatif besar, ini akan memperkuat cadangan devisa kita," ujar Destry.

Rekomendasi