The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga di Tengah Ketidakpastian Inflasi

The Fed bersiap menggelar rapat 28–29 Juli. Pasar melihat suku bunga ditahan, sementara ketegangan AS–Iran mengerek harga energi. Ini yang dipantau.

Agustina Melani
Oleh Agustina Melani - Reporter
The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga di Tengah Ketidakpastian Inflasi
<p>Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu, 17 September 2025, di Gedung Dewan Federal Reserve di Washington. (Foto AP/Jacquelyn Martin)</p>

The Fed akan memulai rapat kebijakan pada 28–29 Juli 2026 dengan ekspektasi pasar mengarah pada penahanan suku bunga acuan di tengah ketidakpastian inflasi. Lonjakan harga energi akibat tensi geopolitik AS–Iran menambah tantangan bagi prospek harga ke depan.

Menurut The Straits Times, Minggu (26/7), Presiden AS Donald Trump sebelumnya mendesak bank sentral agar menurunkan suku bunga. Namun, konsensus pasar yang tercermin pada CME's FedWatch menunjukkan mayoritas pelaku pasar memperkirakan suku bunga tetap di kisaran 3,5%–3,75% pada pertemuan kelima tahun ini.

Inflasi konsumen AS pada Juni tercatat turun menjadi 3,5 persen (year on year), masih lebih tinggi dari target jangka panjang The Fed sebesar 2% yang belum tercapai lebih dari lima tahun. Di saat bersamaan, kenaikan kembali harga energi membuat tekanan inflasi berpotensi bertahan.

Pasar Perkirakan The Fed Tahan Suku Bunga 3,5%–3,75%

CME's FedWatch menunjukkan sebagian besar investor memprediksi The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5 persen – 3,75 persen. Ekspektasi ini datang meski beberapa pembuat kebijakan menyiratkan ketidaksabaran terhadap inflasi yang berlarut.

Di internal The Fed, sinyal pengetatan tambahan tetap hidup apabila tekanan harga kembali meningkat dan kemajuan menuju target 2 persen tersendat.

"The Fed harus siap untuk memperketat kebijakan moneter untuk mencegah terulangnya episode inflasi 2021-2022," kata Gubernur Fed Chris Waller pekan lalu.

Harga Energi Melonjak Imbas Ketegangan AS–Iran

Sejak pekan lalu, ketegangan meningkat dengan serangan AS dan tindakan balasan Teheran yang menargetkan sekutu AS di kawasan. Sementara itu, pemberontak Houthi Yaman menyatakan akan memblokade jalur perdagangan minyak di Laut Merah.

Dampaknya, harga energi kembali menanjak. Kontrak berjangka minyak acuan menembus USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei, periode ketika harga energi sempat menurun.

Kenaikan harga minyak memperbesar risiko inflasi, menjadi variabel tambahan yang perlu diperhitungkan The Fed dalam menetapkan arah kebijakan suku bunga.

Warsh Pangkas Panduan Ke Depan, Transparansi Jadi Sorotan

Sejak menjabat, Ketua The Fed Kevin Warsh berjanji mengurangi atau menghilangkan porsi panduan ke depan (forward guidance) dalam proses pengambilan keputusan. Langkah ini memicu reaksi beragam dari pelaku pasar.

Warsh menilai panduan ke depan dapat mengunci pembuat kebijakan pada posisi yang mungkin perlu diubah ketika data bergerak dinamis.

Di sisi lain, sejumlah analis menilai pengurangan panduan berpotensi menambah ketidakpastian pasar. Dalam pernyataan publiknya, Warsh menyebut memiliki "komitmen yang teguh" untuk menjaga stabilitas harga, namun belum merinci bagaimana dan kapan langkah tersebut akan ditempuh.

The Fed memiliki mandat ganda: menjaga inflasi pada target jangka panjang dan mendorong ketenagakerjaan maksimal. Suku bunga acuan menjadi alat utama—kenaikan suku bunga umumnya menahan aktivitas ekonomi dan harga, sementara penurunan suku bunga mendorong perekrutan dan investasi dengan risiko memicu inflasi.

Pandangan Ekonom Jelang Keputusan FOMC

Dengan inflasi utama melemah pada Juni sebelum diperkirakan naik lagi, banyak analis tidak memperkirakan kenaikan suku bunga pada rapat kali ini, meskipun kemungkinan adanya perbedaan pendapat tetap terbuka.

"'Komitmen yang teguh', menurut pendapat saya, tidak cukup untuk memperketat kebijakan moneter dan mengekang tekanan inflasi," ujar Ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco.

"Ketika Anda menciptakan kekosongan, seringkali kekosongan itu akan terisi," kata Daco.

Ekonom KPMG Diane Swonk kepada AFP menilai kekhawatiran lama para pembuat kebijakan kembali mengemuka, dipicu kombinasi kenaikan harga bahan bakar akibat perang, lonjakan permintaan terkait booming kecerdasan buatan, serta dampak berkelanjutan dari tarif Trump yang merambat ke berbagai sektor.

"Kita mungkin memiliki ketua baru, tetapi para pemimpin lama sekarang khawatir tentang ke mana arah perekonomian sejak awal tahun," ujar Ekonom KPMG, Diane Swonk kepada AFP.

"Inti kebijakan moneter The Fed yang agresif tidak hanya semakin keras tetapi juga semakin meluas," kata Swonk.

Swonk memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga lagi pada akhir 2026. Setelah dua hari sesi tertutup, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan mengumumkan keputusan pada 29 Juli pukul 14.00 (02.00 pada 30 Juli, waktu Singapura), diikuti konferensi pers oleh Warsh.

Rekomendasi