Mengambil keputusan untuk keluar dari zona nyaman demi mengejar karir yang lebih baik adalah impian banyak orang. Namun bagi seorang mantan pegawai pemerintah daerah di Florida, Amerika Serikat, keputusan tersebut justru menjadi awal dari ujian karirnya.
Setelah 13 tahun mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup pemerintah wilayah, pria yang tidak disebutkan namanya ini memutuskan mengundurkan diri akhir tahun lalu. Alasan pindahannya cukup klasik, terjebak dalam kemandekan pekerjaan dan minimnya ruang untuk berkembang secara profesional.
Selama hampir setahun, ia mempersiapkan diri dengan matang. Ia mengikuti berbagai pelatihan kepemimpinan, mengambil proyek tambahan, hingga menjadi mentor bagi staf baru demi memperbarui resume miliknya. Usaha tersebut membuahkan hasil ketika sebuah tawaran kerja di tingkat kota datang dengan prospek yang jauh lebih menjanjikan. Tanpa ragu, ia langsung mengambil kesempatan tersebut.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya hanya enam bulan setelah ia menduduki kursi barunya. Secara mengejutkan, pihak pemberi kerja yang baru memutuskan untuk menghentikan kontrak kerja mereka secara sepihak.
"Keputusan mereka benar-benar membuat saya terkejut," ungkapnya dilansir dari laman Bussines Insider di Jakarta, Senin (20/7).
"Saya menghabiskan setahun terakhir mencoba mencari arah baru, sembari terus mempertanyakan mengapa saya harus keluar dari pekerjaan pertama saya dulu."
Advertisement
Depresi Berat
Dampak dari pemecatan ini tidak hanya memukul kondisi finansialnya, tetapi juga kondisi mentalnya. Ia mengaku mengalami depresi berat, kecemasan, hingga perasaan rendah diri selama berbulan-bulan.
"Saya merasa hancur dan tidak berguna seperti cermin yang pecah. Saya telah melangkah keluar dan memberikan yang terbaik, namun ternyata hal terbaik dari diri saya tetap tidak cukup baik," tuturnya pedih.
Situasi kian pelik karena ia kesulitan untuk kembali masuk ke sektor pemerintahan daerah setelah catatan pemecatan tersebut. Di Florida, tempatnya tinggal, lapangan kerja saat ini didominasi oleh industri perhotelan dan penjualan asuransi. Akhirnya, ia terpaksa banting setir ke industri yang sama sekali baru baginya.
Di usianya yang menginjak pertengahan 40-an, ia sempat mengira bahwa apa yang dialaminya adalah bentuk dari krisis paruh baya (midlife crisis). Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa krisis tersebut datang dalam bentuk kegagalan profesional yang begitu telak.
Meski sempat menyalahkan diri sendiri karena 'berani mencoba sesuatu yang berbeda', kini ia perlahan-lahan mencoba untuk bangkit. Untuk menyambung hidup dan membayar tagihan bulanan, ia bekerja paruh waktu di bidang baru dan sesekali terpaksa mencairkan dana pensiunnya.
Advertisement
Mulai Menata Hidup
Ia juga mulai menata kembali kehidupan sosialnya dengan aktif menjadi sukarelawan di komunitas lokal dan menghubungi kembali jaringan pertemanannya.
Terinspirasi dari kutipan terkenal Winston Churchill yang menyebutkan bahwa kesuksesan adalah kemampuan melangkah dari satu kegagalan ke kegagalan lain tanpa kehilangan antusiasme, ia mencoba membingkai ulang tragedi ini sebagai titik balik positif.
"Saya rasa Churchill juga pasti pernah merasa menyesal saat berada di titik terendahnya. Namun, dia memilih untuk memakai topinya kembali dan melanjutkan hidup. Tampaknya, itu adalah ide terbaik yang bisa saya lakukan saat ini, ketika hal lain tidak lagi masuk akal," pungkasnya.
Reporter Magang: Hanan Mahira Amani