Suara Dentuman Kagetkan Bandung Raya, BMKG dan Badan Geologi Beda Analisis

Badan Geologi meyakini bahwa suara dentuman dan getaran yang dirasakan hingga ke Jawa Barat, Banten, dan Lampung berasal dari aktivitas vulkanik tersebut.

Azzura Galexia
Oleh Azzura Galexia - Reporter
Suara Dentuman Kagetkan Bandung Raya, BMKG dan Badan Geologi Beda Analisis
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi. (Azzura Galexia/Merdeka.com)

Warga Bandung Raya dan sekitarnya digegerkan oleh suara dentuman misterius pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan meletusnya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Peristiwa ini memunculkan perbedaan pandangan antara Badan Geologi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau memang mengalami erupsi menerus yang dimulai pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9) pukul 04.40 WIB. Erupsi ini memunculkan fenomena lava fountain atau lava air mancur berwarna merah menyala.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, meyakini bahwa suara dentuman dan getaran yang dirasakan hingga ke Jawa Barat, Banten, dan Lampung berasal dari aktivitas vulkanik tersebut.

"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama," jelas Lana melalui keterangan yang diterima pada Sabtu (5/9).

Lana juga memastikan warga tidak perlu panik akan ancaman tsunami. Tubuh gunung yang terbentuk pasca-erupsi 2018 dinilai masih relatif kecil dan tidak berpotensi longsor dalam skala pemicu tsunami. Saat ini Gunung Anak Krakatau berada di Level III (Siaga) dan masyarakat dilarang mendekat dalam radius 3 kilometer.

 

Analisis BMKG

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi. (Azzura Galexia/Merdeka.com)
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi. (Azzura Galexia/Merdeka.com)

Di sisi lain, BMKG memiliki analisis yang berbeda terkait sumber suara dentuman yang menghebohkan warga Bandung Raya. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menilai kecil kemungkinan suara tersebut berasal dari Gunung Anak Krakatau.

Alasan utamanya adalah faktor meteorologis. Berdasarkan citra satelit BMKG, pada saat erupsi terjadi, arah angin berembus dari Timur ke Barat. Artinya, angin bergerak menjauhi wilayah Bandung.

"Arah angin pada saat aktivitas erupsi GAK terjadi berarah Timur ke Barat, sehingga kemungkinan suara dentuman berasal dari sumber lain dan masih memerlukan kajian lebih lanjut," ungkap Suaidi.

Lebih lanjut, BMKG telah mengecek data kegempaan, cuaca, dan aktivitas petir di wilayah Bandung Raya. Hasilnya nihil. Langit Bandung cerah, tidak ada petir signifikan, dan tidak ada gempa lokal yang tercatat. BMKG hanya mendeteksi adanya anomali seismik di sekitar Pulau Sibesi, Lampung, yang masih butuh diteliti apakah berkaitan dengan suara tersebut atau tidak.

Hingga saat ini, sumber pasti dentuman di langit Bandung Raya masih menjadi misteri. BMKG akan terus melakukan pemantauan kondisi atmosfer dan magnet bumi untuk memecahkan teka-teki ini.

"Mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, beraktivitas seperti biasa, dan tidak mudah termakan hoaks," kata dia.

Rekomendasi