Mentan Dorong Peremajaan Tebu 100 Ribu Hektare Per Tahun demi Swasembada Gula Nasional

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengupayakan peremajaan tebu seluas 100 ribu hektare setiap tahun melalui program bongkar ratoon. Langkah ini strategis untuk meningkatkan produktivitas dan mencapai swasembada gula nasional pada tahun 2027.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mentan Dorong Peremajaan Tebu 100 Ribu Hektare Per Tahun demi Swasembada Gula Nasional
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengupayakan peremajaan tebu seluas 100 ribu hektare setiap tahun melalui program bongkar ratoon. Langkah ini strategis untuk meningkatkan produktivitas dan mencapai swasembada gula nasional pada tahun 2027. (AntaraNews)

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmennya untuk mempercepat peremajaan lahan tebu di Indonesia. Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan produktivitas gula nasional dan mewujudkan swasembada gula. Melalui program “bongkar ratoon”, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan peremajaan lahan tebu seluas 100 ribu hektare setiap tahunnya.

Pernyataan ini disampaikan Amran usai menghadiri Rapat Percepatan Realisasi Pendanaan Penyerapan Gabah Setara Beras di Kantor Perum Bulog Jakarta, Senin lalu. Amran menjelaskan bahwa total area yang akan diremajakan mencapai sekitar 300 ribu hektare, yang akan dilaksanakan secara bertahap. Target 100 ribu hektare per tahun ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas produksi dan meningkatkan hasil gula secara berkelanjutan.

Program peremajaan tebu ini sangat krusial mengingat kondisi tanaman tebu saat ini didominasi oleh tanaman tua yang sudah tidak produktif. Dengan membongkar total tanaman lama, diharapkan produktivitas lahan tebu dapat kembali optimal. Upaya ini sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai swasembada gula konsumsi pada tahun 2027.

Program “bongkar ratoon” merupakan inti dari upaya peremajaan tebu yang digagas oleh Kementan. Bongkar ratoon adalah kegiatan peremajaan tanaman tebu dengan membongkar total tanaman lama atau ratoon yang sudah tidak produktif lagi. Metode ini dipilih karena banyak lahan tebu di Indonesia saat ini ditanami dengan varietas tua yang telah mengalami penurunan signifikan dalam hal hasil panen dan kualitas nira. Kondisi tanaman tebu yang didominasi oleh tanaman tua menjadi hambatan utama dalam mencapai target produksi gula nasional yang ambisius.

Dengan peremajaan tebu melalui bongkar ratoon, diharapkan tanaman baru yang lebih unggul dan produktif dapat ditanam. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk mengganti tanaman, tetapi juga untuk memperbaiki struktur tanah dan mempersiapkan lahan agar lebih subur. Target peremajaan seluas 300 ribu hektare secara bertahap, dengan 100 ribu hektare per tahun, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi permasalahan produktivitas tebu ini.

Keberhasilan program peremajaan tebu ini akan berdampak langsung pada peningkatan pasokan gula dalam negeri. Peningkatan produksi gula akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Selain itu, petani tebu juga akan merasakan manfaatnya melalui peningkatan pendapatan dari hasil panen yang lebih baik.

Pemerintah telah menyiapkan anggaran signifikan untuk mendukung program peremajaan tebu ini. Sebesar Rp1,7 triliun dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai hibah untuk peremajaan lahan tebu. Anggaran ini akan digunakan untuk membiayai program bongkar ratoon selama tiga tahun berturut-turut, dimulai pada tahun 2026. Dukungan finansial ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam mempercepat modernisasi sektor pertanian tebu.

Selain peremajaan tebu, pemerintah juga mendorong intensifikasi pertanian melalui berbagai upaya. Ini mencakup pemupukan tepat waktu, pengelolaan air yang efisien, pengolahan tanah yang baik, serta penggunaan bibit unggul. Kombinasi antara peremajaan dan intensifikasi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas secara menyeluruh di sektor tebu nasional. Pemupukan yang teratur dan sesuai kebutuhan tanaman akan memastikan nutrisi yang cukup, sementara pengelolaan air yang baik akan mengoptimalkan pertumbuhan tebu. Penggunaan bibit unggul juga menjadi kunci untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal dan berkualitas.

Langkah-langkah intensifikasi ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kuantitas, tetapi juga kualitas gula yang dihasilkan. Dengan demikian, diharapkan gula produksi dalam negeri tidak hanya mencukupi kebutuhan konsumsi, tetapi juga memiliki daya saing di pasar.

Target swasembada gula konsumsi pada tahun 2027 menjadi tujuan utama dari seluruh program peremajaan dan intensifikasi tebu ini. Pencapaian target ini akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian pangan Indonesia. Untuk mendukung tujuan tersebut, upaya perluasan lahan tebu juga sedang dalam tahap perencanaan. Kementan bersinergi dengan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan kajian lapangan sebagai dasar pengembangan areal baru di masa depan.

Mentan Amran Sulaiman menyatakan bahwa pihaknya telah menugaskan BUMN untuk mengecek langsung potensi perluasan lahan. Kajian ini penting untuk memastikan bahwa perluasan lahan dilakukan di area yang tepat, dengan mempertimbangkan kondisi tanah, iklim, dan ketersediaan air. Perluasan lahan akan melengkapi program peremajaan tebu yang sudah berjalan, sehingga kapasitas produksi gula nasional dapat meningkat secara signifikan. Sinergi antara pemerintah dan BUMN diharapkan dapat mempercepat proses identifikasi dan pengembangan lahan baru, membuka peluang investasi, serta menciptakan lapangan kerja di sektor pertanian.

Dengan kombinasi peremajaan tebu, intensifikasi, dan perluasan lahan, pemerintah optimis dapat mencapai swasembada gula pada tahun 2027. Ini adalah langkah besar menuju ketahanan pangan yang lebih kuat dan ekonomi pertanian yang berkelanjutan di Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi