Kemenhub Proyeksikan Pergerakan Angkutan Lebaran 2026 Turun, Antisipasi Lonjakan Tetap Disiapkan

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memproyeksikan pergerakan angkutan Lebaran 2026 akan mengalami penurunan sebesar 1,7 persen, namun antisipasi lonjakan realisasi tetap menjadi fokus utama.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenhub Proyeksikan Pergerakan Angkutan Lebaran 2026 Turun, Antisipasi Lonjakan Tetap Disiapkan
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memproyeksikan pergerakan angkutan Lebaran 2026 akan mengalami penurunan sebesar 1,7 persen, namun antisipasi lonjakan realisasi tetap menjadi fokus utama. (AntaraNews)

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memproyeksikan pergerakan penumpang angkutan Lebaran 1447 Hijriah/2026 Masehi akan mengalami penurunan. Angka proyeksi terbaru menunjukkan sekitar 143,9 juta orang akan melakukan perjalanan, turun sekitar 1,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 146,4 juta orang.

Proyeksi ini didasarkan pada survei yang dilakukan pemerintah sebelum pelaksanaan angkutan Lebaran. Survei ini bertujuan untuk memetakan potensi pergerakan masyarakat serta menyiapkan sarana dan prasarana transportasi nasional secara optimal. Hasil survei mengindikasikan adanya perubahan pola mobilitas.

Meskipun ada penurunan proyeksi, Kementerian Perhubungan tetap mengantisipasi kemungkinan lonjakan pergerakan masyarakat. Pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan realisasi jumlah pemudik dapat melampaui angka survei awal. Oleh karena itu, persiapan matang tetap menjadi prioritas utama.

Survei proyeksi pergerakan angkutan Lebaran tahun ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Perhubungan, Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Kemitraan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat mengenai potensi mobilitas masyarakat selama periode angkutan Lebaran.

Dalam pelaksanaannya, survei melibatkan sekitar 55.000 responden dari berbagai wilayah di Indonesia. Partisipasi responden yang luas ini penting untuk memperoleh data yang representatif terkait pola perjalanan masyarakat menjelang perayaan Idul Fitri. Data yang terkumpul menjadi dasar perencanaan kebijakan transportasi.

Menhub Dudy menjelaskan, pada survei tahun sebelumnya, jumlah masyarakat yang diperkirakan melakukan perjalanan mencapai sekitar 146,4 juta orang. Namun, berdasarkan data mobile positioning pada realisasi tahun 2025, jumlah masyarakat yang benar-benar melakukan perjalanan tercatat mencapai sekitar 154,6 juta orang. Angka ini lebih tinggi dari hasil survei awal, menunjukkan adanya dinamika yang perlu diwaspadai.

Melihat adanya perbedaan antara proyeksi survei dan realisasi di tahun sebelumnya, Kementerian Perhubungan tetap mengantisipasi kemungkinan lonjakan pergerakan masyarakat pada Lebaran tahun ini. Antisipasi ini dilakukan untuk memastikan kesiapan seluruh infrastruktur dan layanan transportasi. Langkah mitigasi telah disiapkan untuk menghadapi potensi peningkatan volume penumpang.

Dudy menegaskan, pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran berharga dalam perencanaan angkutan Lebaran. Pemerintah harus siap apabila terjadi lonjakan jumlah pemudik yang berbeda dari hasil survei. Kesiapan ini mencakup penambahan kapasitas, pengaturan lalu lintas, dan koordinasi antarlembaga terkait.

Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjadikan momentum Lebaran sebagai waktu utama untuk pulang kampung dan merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Tradisi ini tetap menjadi pendorong utama pergerakan massa. Namun, terdapat pula kecenderungan baru di mana sebagian masyarakat memanfaatkan periode libur panjang Lebaran sebagai momentum perjalanan wisata atau liburan.

Sekitar 50,60 persen responden survei menyatakan perjalanan mereka dilakukan untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman masing-masing bersama keluarga. Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi mudik masih sangat kuat di tengah masyarakat. Sementara itu, sisanya mungkin memilih tujuan wisata atau aktivitas lainnya.

Berdasarkan hasil survei, lima wilayah dengan jumlah pemudik terbanyak sebagai daerah asal perjalanan adalah Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten. Konsentrasi penduduk yang tinggi di wilayah-wilayah ini berkontribusi pada tingginya angka pergerakan. Pola ini konsisten dari tahun ke tahun.

Sementara itu, tujuan perjalanan terbanyak masyarakat pada periode Lebaran diperkirakan menuju Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Destinasi ini menunjukkan popularitas sebagai pusat-pusat tujuan mudik. Kesiapan infrastruktur di wilayah-wilayah ini menjadi prioritas utama.

Dari sisi kota asal, lima wilayah dengan jumlah pergerakan tertinggi yaitu Jakarta Timur, Bogor, Bekasi, Jakarta Selatan, serta Jakarta Barat. Wilayah Jabodetabek secara keseluruhan menjadi titik awal pergerakan signifikan. Ini mengindikasikan perlunya pengelolaan arus lalu lintas yang efektif di sekitar ibu kota dan daerah penyangga.

Adapun lima kota tujuan utama yang diperkirakan menjadi destinasi pemudik adalah Kebumen, Yogyakarta, Surabaya, Banyumas, dan Bandung. Kementerian Perhubungan juga mencatat pergerakan besar dari wilayah Jabodetabek, dengan asal utama Bogor, Tangerang, Jakarta Timur, Kota Bekasi, dan Kota Tangerang menuju berbagai daerah tujuan. Puncak pergerakan di Kabupaten Bogor dengan Cianjur menjadi salah satu tujuan favorit, khususnya dalam lingkungan Jabodetabek.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi