Ketimpangan antara performa pasar modal dengan realitas ekonomi nasional kini kian terasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat pecah rekor ke level 9.032 pada 14 Januari 2026. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak mencerminkan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya.
Hal ini tercermin dari pelemahan nilai tukar Rupiah yang nyaris menyentuh Rp17.000 per USD, dan ini menjadi alarm keras bahwa fundamental ekonomi Indonesia sedang dalam kondisi tidak ideal.
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listyanto, menilai bahwa pelaku pasar mulai tersadarkan bahwa kenaikan harga saham selama ini tidak memiliki bantalan fundamental yang kokoh. Intervensi lembaga riset internasional seperti MSCI yang menuntut transparansi bursa, seolah membuka tabir realitas tersebut.
"Pelaku ekonomi di pasar bursa tersadarkan bahwa harga saham yang selama ini menghijau itu tidak ada bantalan fundamentalnya. Kalau ekonomi membaik, wajar saham naik. Tapi ternyata ekonomi tidak membaik, namun saham terus naik sehingga dipertanyakan oleh lembaga riset internasional. Rupiah kemudian mengklarifikasi itu, ternyata kecenderungannya memang melemah," ujar Eko Listyanto saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (02/2).
Persoalan fundamental ini kian diperparah oleh kondisi fiskal negara yang dinilai sedang 'ngos-ngosan'. Eko menyoroti bahwa APBN 2026 tampak kurang kredibel di mata pasar karena mematok target penerimaan pajak yang terlalu tinggi, berkaca pada kegagalan pencapaian target di tahun sebelumnya.
Meskipun pemerintah telah mencoba melakukan efisiensi belanja yang tidak produktif, defisit anggaran tetap membengkak hingga menyentuh angka 2,92 persen terhadap PDB nyaris melampaui batas aman undang-undang sebesar 3 persen. Ketidakmampuan pemerintah dalam mengamankan penerimaan negara di tengah perlambatan ekonomi global menciptakan keraguan besar bagi investor.
Advertisement
Poles-Poles Menkeu Purbaya
Optimisme Menko Purbaya yang menargetkan IHSG mampu menembus level 10.000 dianggap sebagai langkah untuk membangun kepercayaan diri pasar. Namun, Eko Listyanto mengingatkan bahwa kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan polesan angka atau figur tunggal. Tanpa perbaikan menyeluruh di sektor tim ekonomi dan kebijakan fiskal yang rasional, target tersebut sulit tercapai.
Eko menekankan pentingnya penetapan target defisit yang lebih masuk akal dan efisiensi yang lebih selektif. Menurutnya, pembenahan transparansi bursa sebagaimana masukan MSCI memang dapat mengurangi tekanan dari 'saham gorengan', namun untuk mencapai level 10.000 di tengah situasi hari ini adalah hal yang sangat menantang.
"Dari sisi fiskalnya saya bisa sebut ngos-ngosan untuk bisa mendanai seluruh rencana di 2026 ini. Market sudah membaca bahwa sampai akhir tahun defisitnya bisa melebar lagi. Kalau angka 10.000 itu disampaikan, saya kok masih kurang yakin dengan situasi hari ini," pungkas Eko.
Advertisement
Pembelaan Pemerintah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang kuat dan stabil. Ia juga menyatakan bahwa pemerintah sedang mendorong percepatan reformasi serta penguatan pasar modal nasional agar menjadi lebih transparan dan berintegritas, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Airlangga menjelaskan bahwa indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan hasil yang positif. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tercatat sebesar 5,04 persen dan diperkirakan akan meningkat pada rilis data pertumbuhan yang akan datang.
"Kondisi makroekonomi kita kuat. Pertumbuhan ekonomi masih terjaga dan diperkirakan akan lebih besar dibanding kuartal ketiga," ungkap Airlangga di Wisma Danantara pada Sabtu (31/1).
Dari sisi inflasi, ia menyatakan bahwa laju kenaikan harga masih terkendali. Inflasi pada bulan Desember tercatat sebesar 2,92 persen dan tetap berada dalam kisaran target APBN, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen. "Tingkat inflasi kita masih sesuai dengan rentang yang ditetapkan dalam APBN," ujarnya.
Cadangan devisa Indonesia hingga Desember 2025 tercatat sebesar USD 156,5 miliar, yang setara dengan pembiayaan untuk 6,2 bulan impor. Selain itu, defisit fiskal juga dijaga tetap di bawah batas maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sektor perbankan juga dinilai berada dalam kondisi yang solid, dengan pertumbuhan kredit mencapai 9,6 persen dan dana pihak ketiga tumbuh dua digit sebesar 13,83 persen. Rasio permodalan perbankan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat di level 25,87 persen.
Reporter Magang - Mochamad Aidil Akbar