Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan tanggapan terkait klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai perolehan minyak dari Venezuela. Airlangga menilai bahwa klaim tersebut tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar energi global. Pernyataan ini disampaikan Airlangga di kantornya di Jakarta pada Jumat.
Menurut Airlangga, kapasitas produksi minyak Venezuela saat ini berada di bawah 1 juta barel per hari, jumlah yang kurang dari 1 persen produksi minyak dunia. Oleh karena itu, pengalihan minyak dalam jumlah tertentu dari Venezuela hanya akan memiliki sedikit pengaruh terhadap pasokan global. Dinamika ini, menurutnya, lebih berpengaruh bagi pasar energi AS daripada pasar dunia secara keseluruhan.
Klaim Minyak Venezuela oleh Trump ini muncul setelah Presiden Ke-47 AS tersebut mengumumkan bahwa pemerintahan interim di Venezuela setuju untuk menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS. Minyak ini rencananya akan dijual di pasar dengan harga pasar, dan hasilnya akan dikelola di bawah perintah administrasinya.
Advertisement
Advertisement
Airlangga Hartarto menegaskan bahwa produksi minyak Venezuela yang rendah menjadi alasan utama minimnya dampak global dari klaim Trump. "Enggak (berdampak). Pertama, produksi minyak Venezuela itu kan di bawah 1 juta barel oil per day, jadi di bawah 1 persen kan. Jadi secara global (dampak) tidak ada," ujarnya.
Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, kemampuan produksinya terhambat oleh tata kelola yang buruk, investasi yang rendah, dan sanksi dari Amerika Serikat. Produksi minyak mentah Venezuela pada November 2025 tercatat sekitar 1,142 juta barel per hari (bpd) dan diperkirakan mencapai 1 juta bpd pada akhir kuartal, bahkan sempat turun hingga 830.000 bpd pada Desember 2025 akibat sanksi AS. Angka ini jauh di bawah potensi maksimalnya dan tidak sebanding dengan cadangan minyaknya yang melimpah.
Jika dihitung dengan asumsi harga minyak sekitar 56 dollar AS per barel, volume 30-50 juta barel minyak yang diklaim Trump diperkirakan bernilai hingga sekitar 2,8 miliar dollar AS, atau sekitar Rp47 triliun. Jumlah ini, meskipun besar, tidak cukup untuk mengguncang pasar energi global yang jauh lebih besar.
Advertisement
Advertisement
Pada Selasa (6/1), Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan pemerintahan interim Venezuela untuk penyerahan 30-50 juta barel minyak kepada AS. Langkah ini diharapkan dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan energi AS dan memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara. Klaim ini muncul di tengah upaya AS untuk mengontrol sektor minyak Venezuela, bahkan setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Tindakan AS di Venezuela, termasuk penyitaan kapal tanker minyak yang terkait dengan negara tersebut, menunjukkan intensifikasi upaya Trump untuk mengendalikan aliran energi di Amerika. Dinamika geopolitik ini, bersama dengan ketegangan di Iran, telah memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan sempat mendorong kenaikan harga minyak global pada Jumat (9/1).
Advertisement
Pemerintah Indonesia masih terus memantau perkembangan situasi transisi pemerintahan di Venezuela. "Kita monitor saja," tutur Airlangga. Sikap hati-hati ini mencerminkan kompleksitas situasi politik dan ekonomi di Venezuela.
Industri minyak Venezuela menghadapi tantangan serius, termasuk infrastruktur ladang minyak yang rusak parah akibat minim perawatan, pembatasan teknologi, dan kekurangan modal. Produksi minyak negara tersebut telah menurun drastis, sekitar 70 persen sejak akhir 1990-an, dengan ekspor yang kini di bawah 1 juta barel per hari dari sebelumnya 3 juta barel per hari sekitar 20 tahun lalu. Kondisi ini ironis mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Sumber: AntaraNews
Advertisement