Dishub Kota Malang Terapkan Contraflow Situasional saat Nataru 2025/2026, Antisipasi Kepadatan Lalu Lintas

Dishub Kota Malang menyiapkan skema contraflow situasional untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas saat libur Nataru 2025/2026, terutama di jalur utama kota.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dishub Kota Malang Terapkan Contraflow Situasional saat Nataru 2025/2026, Antisipasi Kepadatan Lalu Lintas
Dinas Perhubungan Kota Malang memastikan penerapan contraflow saat libur Nataru 2025-2026 bersifat situasional, hanya diberlakukan jika terjadi kepadatan lalu lintas di jalur utama. (AntaraNews)

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang mengumumkan rencana penerapan skema contraflow di jalur utama kota selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Kebijakan rekayasa lalu lintas ini bersifat situasional, yang berarti akan diaktifkan hanya apabila terjadi kepadatan arus kendaraan yang signifikan. Langkah antisipatif ini diambil guna menjamin kelancaran mobilitas masyarakat serta wisatawan yang berkunjung ke Kota Malang.

Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menjelaskan bahwa penyesuaian rekayasa lalu lintas akan sangat bergantung pada kondisi aktual di lapangan. Fokus utama penerapan contraflow adalah di Jalan Ahmad Yani, sebuah arteri vital yang menjadi akses utama bagi kendaraan dari arah Surabaya, khususnya yang keluar dari Tol Karanglo, menuju kawasan Universitas Brawijaya hingga Jalan MT Haryono.

Potensi penerapan contraflow di Jalan Ahmad Yani dapat dilakukan secara fleksibel, baik dari arah selatan menuju utara maupun sebaliknya, sesuai kebutuhan. Selain itu, Dishub juga terus melakukan pemantauan intensif di jalur penghubung lainnya, seperti di sekitar Jembatan Kedung Kandang dari arah Kota Malang menuju Kabupaten Malang, yang kini telah lebih lancar pasca-pelebaran.

Strategi Contraflow Dishub Kota Malang di Titik Rawan Kepadatan

Dishub Kota Malang telah memetakan beberapa titik krusial yang diprediksi akan mengalami peningkatan volume kendaraan selama periode Nataru. Jalan Ahmad Yani menjadi perhatian utama karena perannya sebagai pintu gerbang masuk dan keluar kota dari arah utara. Rekayasa lalu lintas ini diharapkan mampu mengurai antrean panjang kendaraan dan mengurangi waktu tempuh.

Widjaja Saleh Putra menegaskan bahwa keputusan untuk mengimplementasikan contraflow akan didasarkan pada hasil pantauan langsung dan data lalu lintas real-time. Fleksibilitas dalam penerapan skema ini memungkinkan Dishub untuk merespons cepat terhadap dinamika kepadatan. Tujuannya adalah untuk meminimalkan potensi kemacetan parah dan memastikan kelancaran arus perjalanan bagi semua pengguna jalan di Kota Malang.

Selain Jalan Ahmad Yani, Dishub juga mengamati perkembangan di Jalan Gatot Subroto dan Jalan Soekarno-Hatta (Soehat). Diharapkan, proyek-proyek peningkatan infrastruktur jalan di kedua area tersebut sudah rampung sepenuhnya sebelum Nataru. Penyelesaian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap kelancaran arus lalu lintas secara keseluruhan di berbagai penjuru kota.

Optimalisasi Angkutan Umum TransJatim untuk Mobilitas Wisatawan

Menyambut libur akhir tahun, Dishub Kota Malang juga mengandalkan peran Bus TransJatim sebagai solusi alternatif untuk mengurai kepadatan lalu lintas, khususnya saat puncak perayaan Tahun Baru 2026. Angkutan umum ini diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan mobilisasi wisatawan, sehingga mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan. Ini merupakan bagian dari upaya manajemen lalu lintas terpadu.

Bus TransJatim, yang operasionalnya di bawah koordinasi Dishub Provinsi Jawa Timur, memiliki keuntungan strategis dengan titik pemberhentian yang terintegrasi di area Stasiun Malang. Lokasi ini sangat memudahkan penumpang kereta api untuk melanjutkan perjalanan mereka ke berbagai destinasi di dalam kota maupun sekitarnya. Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi perjalanan wisatawan.

Sejak diluncurkan pada 20 November 2025, Bus TransJatim telah menunjukkan performa yang menjanjikan. Data dari Dishub Provinsi Jawa Timur menunjukkan total jumlah penumpang telah mencapai 83 ribu orang dengan tingkat okupansi rata-rata sekitar 80 persen. Meskipun demikian, Widjaja Saleh Putra menekankan pentingnya sosialisasi berkelanjutan agar masyarakat dan wisatawan semakin terbiasa menggunakan layanan transportasi publik yang baru ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi