Pemerintah Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh, secara tegas menyatakan harapan agar Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Aceh Hebat 1 tetap beroperasi melayani masyarakat Pulau Simeulue. Penolakan ini disampaikan menyusul adanya wacana pengalihan rute kapal tersebut ke jalur pelayaran internasional. Wakil Bupati Simeulue, Nusar Amin, menegaskan pentingnya keberadaan kapal ini bagi keberlangsungan hidup warga kepulauan.
Nusar Amin telah menginstruksikan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Simeulue untuk segera mengirimkan surat resmi kepada Gubernur Aceh. Surat tersebut bertujuan untuk memastikan KMP Aceh Hebat 1 tidak dialihkan dari rute yang telah berjalan. Keputusan ini diambil demi menjaga akses transportasi vital bagi penduduk Simeulue.
KMP Aceh Hebat 1, yang merupakan aset Pemerintah Aceh, awalnya direncanakan untuk melayani rute internasional dari Pelabuhan Krueng Geukeuh, Aceh Utara, menuju Penang, Malaysia. Namun, Pemkab Simeulue dan masyarakat setempat berpendapat bahwa pengalihan ini akan sangat merugikan. Mereka khawatir akan dampak negatifnya terhadap mobilitas dan distribusi logistik di pulau terluar tersebut.
Advertisement
Advertisement
Wakil Bupati Simeulue Nusar Amin menyatakan bahwa KMP Aceh Hebat 1 merupakan moda transportasi laut yang sangat nyaman bagi masyarakat di kabupaten kepulauan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah daerah tidak menyetujui apabila kapal ini dialihkan untuk melayani rute lainnya. Pemkab Simeulue terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi agar kapal tetap dipertahankan.
"Sangat tidak setuju apabila KMP Aceh Hebat 1 ini dialihkan. KMP Aceh Hebat 1 ini merupakan transportasi laut yang sangat nyaman untuk masyarakat Simeulue," ucap Nusar Amin. Pernyataan ini menunjukkan betapa vitalnya peran kapal tersebut dalam memenuhi kebutuhan dasar warga. Kapal ini menjadi tulang punggung penghubung antara Pulau Simeulue dengan daratan Aceh.
Kabupaten Simeulue sendiri merupakan wilayah kepulauan terluar di Provinsi Aceh, terletak di Samudra Hindia, sekitar 180 mil laut dari pesisir barat Pulau Sumatra. Dengan 10 kecamatan dan 138 gampong, serta dihuni sekitar 94 ribu jiwa, akses transportasi yang stabil sangat krusial. KMP Aceh Hebat 1 menjadi jembatan utama bagi mobilitas dan perekonomian lokal.
Advertisement
Advertisement
Kalangan masyarakat di Kabupaten Simeulue juga turut menyuarakan permintaan kepada Pemerintah Aceh untuk mengkaji ulang rencana pengalihan pelayaran KMP Aceh Hebat 1. Marwan, seorang warga Simeulue, mengungkapkan kekhawatirannya jika rencana pengalihan ke rute internasional Krueng Geukueh-Penang terealisasi. Hal ini dikhawatirkan akan mengurangi akses transportasi dasar masyarakat.
"Jika ini terealisasi, tentu mengurangi akses transportasi dasar masyarakat Pulau Simeulue yang selama ini bergantung pada kapal tersebut," kata Marwan. Ia menambahkan bahwa selama ini KMP Aceh Hebat 1 melayani penyeberangan dua kali dalam seminggu. Bahkan dengan jadwal yang ada, antrean kendaraan masih sering terjadi, menunjukkan tingginya kebutuhan akan transportasi laut.
Samsudin, seorang sopir angkutan barang, menuturkan bahwa kehadiran KMP Aceh Hebat 1 sangat membantu kelancaran distribusi logistik. Kapal dengan kapasitas muatan besar ini mempermudah pengiriman kebutuhan pokok dari Pulau Sumatra ke Simeulue dan sebaliknya. "Sebelum ada KMP Aceh Hebat 1, kami bisa berhari-hari antre di pelabuhan," ungkap Samsudin, menyoroti efisiensi yang dibawa kapal ini.
Advertisement
Pengalihan KMP Aceh Hebat 1 berpotensi besar mengganggu distribusi logistik, mobilitas masyarakat, dan aktivitas ekonomi di Pulau Simeulue. Antrean kendaraan yang lebih panjang akan menjadi konsekuensi logis, memperlambat pergerakan barang dan orang. Kondisi ini dapat berdampak negatif pada stabilitas harga dan ketersediaan pasokan di pulau tersebut.
Sumber: AntaraNews