Tahukah Anda? INACA Ajak Seluruh Stakeholder Wujudkan Penerbangan Hijau Berkelanjutan, Ini Alasannya

INACA mengajak semua pemangku kepentingan untuk menerapkan konsep penerbangan hijau berkelanjutan guna mengurangi emisi karbon, sejalan dengan program CORSIA ICAO. Mengapa ini penting?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? INACA Ajak Seluruh Stakeholder Wujudkan Penerbangan Hijau Berkelanjutan, Ini Alasannya
INACA mengajak semua pemangku kepentingan untuk menerapkan konsep penerbangan hijau berkelanjutan guna mengurangi emisi karbon, sejalan dengan program CORSIA ICAO. Mengapa ini penting? (AntaraNews)

Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan penerbangan untuk mengimplementasikan konsep penerbangan hijau berkelanjutan. Ajakan ini bertujuan mengurangi emisi karbon secara signifikan di sektor aviasi nasional. Langkah strategis ini disampaikan dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-55 INACA di Jakarta pada hari Rabu, 16 Oktober.

Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menekankan pentingnya perencanaan yang matang dalam menyambut inisiatif ini. Penerapan penerbangan hijau berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari program Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) yang digagas oleh International Civil Aviation Organisation (ICAO). Program tersebut menargetkan pertumbuhan netral karbon di penerbangan internasional.

Indonesia, sebagai negara anggota ICAO, memiliki kewajiban untuk mengikuti program CORSIA ini. Tujuannya adalah menstabilkan total emisi CO2 dari penerbangan di atas tingkat tahun acuan sebesar 85 persen. Seluruh stakeholder di industri penerbangan nasional diharapkan dapat mengimplementasikan program ini secara menyeluruh.

Implementasi CORSIA dan Kewajiban Indonesia

Program CORSIA ICAO dirancang untuk mencapai pertumbuhan netral karbon di sektor penerbangan internasional. ICAO telah menetapkan fase rintisan pada tahun 2021-2023 sebagai langkah awal. Fase ini menjadi fondasi penting bagi negara-negara anggota untuk memahami dan mempersiapkan diri.

Selanjutnya, tahun 2024-2026 akan menjadi fase pertama partisipasi sukarela. Pada periode ini, negara-negara dapat secara bertahap mulai mengimplementasikan skema pengurangan emisi. Puncak dari program ini adalah fase kedua pada tahun 2027-2035, di mana partisipasi akan bersifat wajib bagi semua negara anggota.

"Sebagai negara anggota ICAO, tentu Indonesia juga wajib mengikuti program CORSIA ini," kata Denon Prawiraatmadja. Ia menambahkan, "Semua stakeholder di industri penerbangan nasional wajib mengimplementasikannya." Hal ini menegaskan komitmen Indonesia dalam upaya global mengurangi emisi karbon.

INACA berharap program CORSIA di Indonesia dapat terus berkembang sesuai mandat ICAO. Dengan demikian, target pengurangan emisi CO2 di penerbangan dapat tercapai secara optimal. Pada saat yang sama, industri penerbangan dapat beroperasi lebih efektif, efisien, serta tetap melayani kepentingan masyarakat dengan baik.

Komitmen INACA dan Peta Jalan Pengurangan Emisi

INACA, sebagai perwakilan maskapai penerbangan nasional, secara aktif mendorong semua pemangku kepentingan untuk berpartisipasi. Regulator, operator, dan masyarakat diharapkan berperan aktif dalam menyusun peta jalan pengurangan emisi CO2. Peta jalan ini sangat krusial untuk keberlanjutan sektor aviasi.

Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menekankan pentingnya regulasi yang mengikat. "Diharapkan agar peta jalan tersebut diperkuat dengan sebuah regulasi yang mengikat sehingga dapat dijalankan oleh semua stakeholder secara berkelanjutan," ujarnya. Regulasi ini akan memastikan konsistensi dan kepatuhan dalam implementasi.

INACA sendiri berkomitmen pada empat pilar utama dalam menjalankan perannya. Pilar-pilar tersebut meliputi keselamatan, keamanan, layanan kepada penumpang, dan penerbangan berkelanjutan. Komitmen ini menjadi landasan bagi setiap inisiatif yang diambil oleh asosiasi.

Pada peringatan HUT ke-55, INACA menyelenggarakan berbagai kegiatan bertema "Roadways Of Sustainable Aviation: Green, Smart and Harmonized". Acara seperti Indonesia Aero Summit dan seminar Sustainable Aviation Fuel (SAF) menunjukkan keseriusan INACA. Seminar SAF ini bahkan digelar bekerja sama dengan PT Pertamina Patra Niaga dan BARINDO.

Kiprah INACA dan Apresiasi Kinerja Bandara

INACA didirikan pada 15 Oktober 1970 oleh para pimpinan maskapai penerbangan Indonesia. Sejak 23 November 1989, asosiasi ini diakui resmi sebagai satu-satunya asosiasi maskapai penerbangan nasional oleh Kementerian Perhubungan. INACA menaungi maskapai penerbangan niaga berjadwal, tidak berjadwal, dan kargo.

Peran INACA sangat vital sebagai jembatan komunikasi antara operator penerbangan dan pemerintah. Asosiasi ini terus berupaya memastikan industri penerbangan nasional tumbuh secara berkelanjutan. Keberadaan INACA menjadi jantung bagi perkembangan aviasi di Indonesia.

Dalam rangka HUT ke-55, INACA juga memberikan apresiasi kepada sejumlah bandara di bawah pengelolaan PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports). Apresiasi ini diberikan atas kinerja pelayanan terbaik berdasarkan Survei Kepuasan Pelanggan (CSI) tahun 2025. Survei dilakukan pada Mei–Juni 2025 di 32 bandara seluruh Indonesia.

Dari hasil survei tersebut, empat bandara menerima penghargaan. Bandara Frans Kaisiepo Biak menjadi The Best Airport for -2 Million Passenger Per Annum. Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru meraih penghargaan untuk kategori 2–5 juta penumpang per tahun. Sementara itu, Bandara Juanda Surabaya diakui untuk kategori 5 juta penumpang ke atas, dan Bandara Internasional Yogyakarta sebagai The Most Improved Airport for Services.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi