Bunyi notifikasi dari ponsel Lisa memecah kesunyian pagi itu. Sebuah pesan WhatsApp masuk dan membuat matanya terbelalak. Setelah sekian lama menanti kabar baik dari perusahaan-perusahaan tempatnya melamar kerja, akhirnya dia menerima tawaran pekerjaan.
Namun, pesan itu bukan datang dari HRD atau perusahaan mana pun yang sebelumnya dia incar. Tawaran tersebut justru datang dari kekasihnya sendiri, yang menawarkan pekerjaan melalui jalur koneksi atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai orang dalam (ordal).
Tanpa banyak pertimbangan, Lisa menerima tawaran itu. Baginya, ini adalah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan.
"Dapat pesan tawaran kerja dari pacarku. Tanpa ambil pusing gas aja," kata Lisa, kepada merdeka.com, Kamis (4/6).
Di balik keputusannya menerima jalur koneksi, Lisa telah melalui perjuangan panjang dalam mencari pekerjaan. Sejak lulus kuliah pada 2021, dia tak henti mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan.
Mulai dari posisi yang sesuai dengan jurusannya hingga pekerjaan di bidang lain, sudah dia coba. Ribuan email berisi CV telah dikirim melalui berbagai platform, namun tak membuahkan hasil.
"Mau nangis rasanya, sudah banyak mengirimkan CV di berbagai aplikasi seperti JobStreet, Glints, LinkedIn, dan lain lain. Sempat juga wawancara tapi tidak ada panggilan lagi. Dan selama ini belum ada yang benar-benar lolos,” ratap Lisa.
Untuk mengisi waktu luang, Lisa memilih menjadi pekerja lepas (freelance) di bidang penulisan di salah satu perusahaan. Meskipun pengalaman freelance-nya sudah cukup lama, ia merasa belum cukup meyakinkan bagi para HRD untuk menerimanya sebagai karyawan tetap atau kontrak.
"Sebelumnya dan sampai sekarang masih bekerja freelance untuk mengisi waktu dan pengalaman yang linear dengan kuliah. Tapi kayaknya pekerjaan freelance doang, meskipun udah 1–2 tahun belum cukup pengalaman untuk bekerja sebagai karyawan kontrak/tetap, karena sampai sekarang belum ada panggilan apapun wkwk," kenangnya sambil tersenyum.
Advertisement
Perjuangan Membuahkan Hasil
Kini, perjuangan Lisa mulai membuahkan hasil. Meski bukan melalui jalur rekrutmen formal, dia bersyukur telah bekerja sebagai pegawai kontrak di sebuah perusahaan.
"Ya alhamdulillah pegawai kontrak, sudah jalan empat bulan. Kemarin tiga bulan probation. Nah sekarang sih kata HRD-nya mau diperpanjang karyawan kontrak satu tahun. Doain ya,” tutur Lisa dengan semangat.
Namun di sisi lain, meski merasa lega telah mendapat pekerjaan, Lisa juga menyadari adanya beban moral karena masuk melalui jalur ordal. Dia khawatir jika performanya tidak sesuai ekspektasi, hal itu bisa mencoreng nama baik orang yang membantunya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, dia berusaha menepis pikiran negatif tersebut dan fokus menjalani tugas sebaik mungkin.
"Beban memang ada sih, takutnya bikin jelek nama yang bawa kita kalo performanya nggak bagus. Tapi untuk keadaan sekarang yang susah banget dapet kerja, nggak ada pikiran macam-macam lagi. Yang penting kerja," timpalnya.
"Lebih ke tau diri aja. Karena sudah dapet dari orang, mau nggak mau performanya harus bagus, jangan males-malesan," lanjut Lisa.
Advertisement
Evaluasi Diri
Meskipun kini telah bekerja, Lisa tak henti mengevaluasi dirinya. Dia sempat bertanya-tanya apa yang membuat lamarannya selama ini tidak kunjung membuahkan hasil, meski sudah melewati berbagai tahap seperti wawancara dengan HRD.
"(Mungkin) karena pengalaman aku sebelumnya cuma freelance doang, kayaknya itu belum cukup jadi pertimbangan HRD buat nerima aku jadi karyawan. Bisa juga karena ekspektasi gaji aku yang nggak sesuai sama perusahaan," jelasnya.
Terlepas dari segala proses yang telah dilaluinya, Lisa tetap bersyukur telah mendapatkan pekerjaan. Jalur ordal bukan menjadi persoalan utama baginya, yang terpenting kini ia bisa bekerja dan membantu orang tua.
"Nggak apa-apa (jalur ordal) yang penting akhirnya kerja, dan bisa bantu orang tua," tutupnya.