Kebijakan tarif impor tinggi yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap produk China dinilai berpotensi memperlambat ekonomi global. Namun, menurut ekonom senior Chatib Basri, kondisi ini justru membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menarik investasi.
Dalam acara Grab Business Forum 2025 di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (8/5), Chatib menjelaskan bahwa kebijakan tarif tersebut dapat memicu relokasi besar-besaran investasi dari China keluar dari AS. Menurutnya, China kemungkinan akan mengalihkan kegiatan industrinya ke negara lain yang memiliki akses lebih mudah ke pasar AS.
“Kalau ini dijalankan secara konsisten, dalam tiga bulan Anda tidak akan melihat produk China di pasar Amerika. China akan kesulitan masuk ke sana,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, Indonesia bersama Vietnam, Bangladesh, dan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya diperkirakan akan menjadi tujuan relokasi investasi dari China. Chatib menyebut bahwa para investor akan mencari negara yang menawarkan akses ke pasar AS dan kemudahan berusaha.
“Pilihan mereka bisa jatuh ke Vietnam, Indonesia, Singapura, atau Malaysia,” lanjutnya.
Untuk memaksimalkan peluang tersebut, Chatib mendorong pemerintah Indonesia agar terus memperbaiki iklim investasi, terutama dalam hal penyederhanaan perizinan. Ia mengakui bahwa saat ini Vietnam masih menjadi pesaing utama Indonesia dalam menarik investasi asing.
"Di tengah krisis, kita justru harus mencari peluang bisnis. Indonesia bisa melakukan hal tersebut," tegasnya.
Chatib juga menekankan pentingnya kebijakan yang adaptif untuk merespons dinamika ekonomi global. Ia meyakini bahwa situasi krisis sering kali menjadi momen munculnya kebijakan yang baik.
“Saya percaya bahwa masa sulit bisa melahirkan kebijakan yang baik,” tutupnya.
Advertisement
Realisasi Investasi Kuartal I 2025 Capai Rp465,2 Triliun
Sementara itu, Menteri Investasi dan Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan bahwa realisasi investasi Indonesia pada kuartal I 2025 mencapai Rp465,2 triliun atau sekitar 24,4 persen dari target tahunan.
Menurut Rosan, pencapaian ini menunjukkan bahwa investor masih menaruh kepercayaan besar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Ia menambahkan bahwa stabilitas ekonomi, politik, dan sosial di bawah pemerintahan Presiden Prabowo menjadi faktor utama kepercayaan tersebut.
Dalam periode yang sama, penyerapan tenaga kerja juga menunjukkan pertumbuhan positif. Tercatat sebanyak 594.104 orang terserap di kuartal I 2025, meningkat 8,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Adapun investasi yang masuk terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp230,4 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp234,8 triliun, menunjukkan keseimbangan antara investasi asing dan domestik.