Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menempati peringkat kedua sebagai menteri dengan kinerja terbaik dalam survei nasional yang dirilis oleh lembaga riset independen IndoStrategi. Penilaian ini menyoroti pencapaian signifikan Amran dalam memperkuat sektor pertanian nasional, khususnya dalam menghadapi krisis pangan global.
Survei bertajuk "Kinerja Menteri-Menteri: 10 Peringkat Teratas Kinerja Menteri" menunjukkan bahwa Amran memperoleh skor 4,15 dari skala 1 hingga 5. Ia hanya terpaut 0,05 poin dari peringkat pertama yang diraih oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang memperoleh skor 4,20.
Direktur Riset IndoStrategi, Ali Noer Zaman, menjelaskan bahwa survei ini menilai efektivitas kebijakan, kualitas tata kelola pemerintahan, dan kepemimpinan selama enam bulan pertama pemerintahan Kabinet Merah Putih. Skor rata-rata nasional tercatat sebesar 3,54, yang menunjukkan sebagian besar menteri berada dalam kategori kinerja "sedang".
Selain metode kuantitatif, survei juga mengandalkan pendekatan kualitatif dengan triangulasi data dari dokumen kebijakan nasional seperti Asta Cita dan RPJMN 2024–2029, melibatkan 67 pakar di berbagai bidang, serta diperkuat melalui Focus Group Discussion (FGD) dan kajian media.
Peringkat tinggi yang diraih Amran tak lepas dari sejumlah kebijakan strategis di sektor pertanian, termasuk peningkatan kuota pupuk subsidi hingga dua kali lipat, reformasi distribusi pupuk, dan kenaikan harga gabah petani menjadi Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini dinilai berhasil mendorong peningkatan produksi dan serapan beras secara signifikan.
Per April 2025, stok beras nasional di Bulog tercatat lebih dari 3,4 juta ton—angka tertinggi dalam 23 tahun terakhir. Bahkan, produksi beras nasional sepanjang Januari–April 2025 meningkat antara 50 hingga 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data dari United States Department of Agriculture (USDA) juga memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai 34,6 juta ton pada tahun ini, menjadikan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan ASEAN dan memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan strategis di tengah tantangan global.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional Penyuluh Pertanian pada 26 April 2025, Amran menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi kebijakan pemerintah dan kerja keras petani di seluruh Indonesia.
“Di saat negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina mengalami krisis pangan, Indonesia justru surplus beras. Ini bukti kerja keras para petani dan dukungan kebijakan yang tepat,” ujar Amran.
Capaian tersebut dinilai tidak hanya menjaga stabilitas harga pangan dalam negeri, tetapi juga berdampak pada dinamika pasar beras di tingkat internasional.