Orang kaya sekalgisu CEO Citadel yang dikenal sebagai pendukung serta donatur utama untuk Presiden Donald Trump, Ken Griffin mengekspresikan ketidakpuasannya dengan menggunakan ungkapan kasar yang tidak biasa kepada presiden dari Partai Republik tersebut.
Dia merasa frustrasi terhadap kebijakan tarif impor yang diterapkan Trump, yang telah memicu perang dagang dengan berbagai negara. Menurut Griffin, situasi ini berpotensi merusak reputasi Amerika di kancah internasional dan mengikis citra negara tersebut.
"Amerika Serikat lebih dari sekadar negara. Ini adalah sebuah citra. Ini adalah citra universal, baik itu budaya kita, kekuatan finansial kita, kekuatan militer kita. Amerika bangkit lebih dari sekadar negara. Ini seperti aspirasi bagi sebagian besar negara di dunia. Dan kita sedang mengikis citra itu sekarang," ungkap Griffin saat berbicara di KTT Ekonomi Dunia Semafor di Washington, seperti dilansir CNN.
Pendiri salah satu perusahaan pengelola dana investasi terbesar di dunia ini menambahkan bahwa saat ini banyak investor yang ragu untuk menempatkan investasi mereka di Amerika Serikat, terutama dalam bentuk obligasi Treasury AS.
Penyebab utama keraguan tersebut adalah penerapan tarif oleh Trump, yang telah merusak kepercayaan bahwa Amerika akan tetap menjadi negara yang dapat diandalkan dan rasional dalam pasar keuangan global.
"Jika Anda memikirkan perilaku Anda sebagai konsumen, seberapa sering Anda membeli produk dengan merek tertentu karena Anda memercayai merek tersebut?" tanya Griffin.
"Di pasar keuangan, tidak ada merek yang dapat dibandingkan dengan merek US Treasuries, kekuatan dolar AS dan kekuatan serta kelayakan kredit US Treasuries. Tidak ada merek yang dapat menyamainya. Kami mempertaruhkan merek tersebut," tegasnya.
Obligasi Treasury, yang merupakan surat utang pemerintah, secara historis telah menjadi pilihan investasi yang aman dan dipercaya oleh banyak investor. Di saat-saat sulit, biasanya investor akan beralih ke obligasi Treasury sebagai tempat yang lebih aman untuk menyimpan investasi mereka dibandingkan dengan saham yang lebih berisiko.
Namun, kondisi ini tampaknya tidak terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Seiring meningkatnya perang dagang yang dipicu oleh Trump, para investor semakin khawatir bahwa Amerika Serikat dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan pada ekonomi global.
Bahkan, ada prediksi bahwa dampak tersebut akan lebih merugikan ekonomi negara ini sendiri dan mungkin menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada reputasinya.
Advertisement
Kekecawaan yang Lain
Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase, baru-baru ini mengungkapkan pandangannya dalam surat yang ditujukan kepada pemegang saham tahunan. Dalam surat tersebut, Dimon menekankan bahwa 'posisi luar biasa' Amerika Serikat di pentas global didasarkan pada kekuatan di bidang ekonomi, militer, dan moral.
Namun, dia juga mengingatkan bahwa kebijakan luar negeri yang mengedepankan kepentingan Amerika, seperti yang diterapkan oleh Trump, dapat mengancam posisi unik negara ini di dunia.
"America First boleh-boleh saja, asalkan nanti tidak berakhir menjadi America Alone," ujar Dimon.
"Jika aliansi militer dan ekonomi dunia Barat terpecah, Amerika sendiri pasti akan melemah seiring berjalannya waktu."
Di sisi lain, Griffin memberikan analogi mengenai citra merek Amerika, menggambarkannya sebagai penjahit terkenal, tas tangan berkualitas tinggi, atau produsen mobil yang dapat dipercaya. Di memperingatkan bahwa jika perusahaan yang memproduksi merek-merek tersebut terlibat dalam skandal publik, maka pemulihan reputasi menjadi hal yang hampir tidak mungkin.
Dalam konteks ini, penting bagi negara untuk menjaga reputasi dan hubungan internasionalnya agar tetap kuat dan berpengaruh di kancah global.
Advertisement
Keadaan Ekonomi di Amerika Serikat
Para investor kini mulai menjauh dari aset-aset yang berhubungan dengan Amerika Serikat. Dolar AS pun mengalami penurunan, mencapai posisi terendah dalam tiga tahun terakhir. Harga minyak mentah yang diperdagangkan di AS juga mengalami penurunan, seiring dengan kekhawatiran investor mengenai kemungkinan penurunan permintaan yang signifikan saat resesi melanda.
Selain itu, imbal hasil obligasi Treasury, yang bergerak berlawanan dengan harga, telah meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir.
Di pasar saham AS, meskipun terdapat lonjakan positif dalam dua hari terakhir, total nilai pasar masih mengalami penurunan hampir USD 7 triliun sejak mencapai puncaknya pada pertengahan Februari.
Hal ini diungkapkan oleh S&P Dow Jones Indices. Menurut Griffin, situasi ini menunjukkan bahwa Trump dan tim penasihatnya perlu bekerja lebih keras untuk memperbaiki dampak negatif yang ditimbulkan oleh perang dagang yang dianggap merugikan.