Muhammad Naim atau disapa dengan Haji Naim tidak pernah menyangka dapat hidup sukses bahkan menjadi juragan oleh-oleh di Kota Malang, Jawa Timur. Padalah prinsip hidupnya, sepanjang dia memiliki uang untuk makan, sudah cukup baginya.
Naim lahir di Banyuwangi. Keluarganya bukan dari ekonomi mapan. Meski memiliki sumber pendapatan dari bekerja sebagai petani, hal itu tidak mencukupi kebutuhan keluarga Naim.
Kemudian, dia berinisiatif berkeliling menjual es saat masih duduk di bangku SD. Agar tidak lagi meminta orang tua ketika ingin membeli sesuatu. Dia juga harus menjual jasanya sebagai sol sepatu dan sandal. Hasil kerja seperti itu kemudian menghasilkan uang yang cukup bagi Naim.
Memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sang ibu menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) demi menghidupai keluarga. Naim pun merantau ke Malang saat Sekolah Menengah Atas (SMA).
Di masa SMA, Naim harus ngekos dengan biaya yang dikirim dari sang ibu yang bekerja sebagai TKI. Namun uang kiriman dari ibunya tidak rutin setiap bulan. Akhirnya dia suka telat membayar uang kos-kosan.
Penjaga kos kemudian sempat mendatangi Naim dan melihat isi kamar kos Naim dan membebaskan Naim dari biaya kos. Naim tidak mau memanfaatkan kebaikan hati pemilik kos. Setiap pagi dia paling sering bersih-bersih kos.
Advertisement
Masuk Kulilah
Naim kemudian ingin masuk kuliah di Malang. Namun hanya sampai 4 bulan, dia tidak meneruskan pendidikannya karena kehabisan biaya. Dia pun memilih untuk bangkit dengan mencari pekerjaan.
Karir pertamanya saat itu sebagai sales balsem. Empat bulan dia menjadi sales balsem, Naim kemudian menjajal menjadi sales asuransi akibat iming-iming dari seorang manajer yang pernah membeli balsemnya.
Naim kemudian menjadi sales asuransi. Kesan pertama yang dia rasakan yaitu sangat sulit mendapatkan nasabah. Dia hampir menyerah, namun semangatnya terpacu usai mendapat hinaan dari saudaranya karena bekerja sebagai sales asuransi.
Meski berat, Naim berhasil mendapatkan banyak nasabah dengan gaji dan bonus hingga puluhan juta rupiah per bulan. Naim cukup peka melihat peluang. Selama menjadi sales asuransi, dia juga menjadi sales perangkat (sistem IT) untuk sekolah.
Advertisement
Nasib Mulai Berubah
Nasib kemudian membawanya menjadi sales perangkat sistem IT untuk sekolah. Omset Naim terus melesat setiap kali dapat proyek. Dari hasil itu dia mengelola hartanya dengan membangun usaha rumah makan, hotel, hingga oleh-oleh.
Di tahun 2019, ujian datang, Naim kena tipu dari rekannya. Jumlahnya sangat besar Rp1,3 miliar. Dia menangis hadapi situasi itu. Beruntung, dia memiliki dukungan penuh dari keluarga. Dia mencoba menjual asetnya untuk membayar utangnya. Meski sulit namun semua masalah Naim perlahan mulai terselesaikan.
Naim mengaku, mustahil jika tanpa pertolongan Tuhan, utangnya tidak akan terlunasi bahkan asetnya tidak akan berputar.