Pemerintah berhasil mengumpulkan pendapatan negara Rp2.003,1 triliun sepanjang 2021. Capaian ini tumbuh 26,1 persen dari pendapatan tahun 2020. Capaian ini juga telah lebih tinggi Rp259,4 triliun dari yang direncanakan dalam APBN 2021.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan, mengumpulkan pendapatan negara tahun lalu bukan hal yang mudah. Sebab kondisi perekonomian nasional naik turun di tahun lalu.
"Tahun lalu kita mengumpulkan Rp2.003 triliun, mungkin dikira gampang, tapi ini susah, ekonomi kita nyungsep naik, nyungsep naik," ungkap Sri Mulyani dalam acara Penandatanganan Prasasti Penanda Aset (SBSN) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (5/1).
Apalagi, dari sisi internal Kementerian Keuangan hampir 16.000 pegawainya terpapar Covid-19 dan 130 orang di antaranya meninggal dunia. Kondisi ini membuat proses pengumpulan pendapatan negara dan pengelolaanya berjalan tidak mudah.
Meski begitu, kondisi menantang tersebut tidak membuat dirinya patah semangat. Kementerian Keuangan mampu membelanjakan dana Rp 2.786,8 triliun.
"Dalam kondisi itu belanjanya Rp 2.700-an triliun, belanja saja belum tentu gampang," kata dia.
Advertisement
Realisasi belanja negara ini juga telah melampaui target APBN yakni Rp2.750 triliun. Rata-rata setiap kementerian/lembaga telah menyerap anggaran hingga 94-95 persen.
"Ini ngabisin duit saja susah, apalagi ngumpulin duit," ungkapnya.
Berbagai belanja tersebut kata dia mayoritas dibelanjakan untuk penanganan pandemi Covid-19. Mulai dari memberikan bantuan sosial, subsidi, membeli vaksin, melakukan 3T, membayar insentif tenaga kesehatan dan lain-lain.
"Ini memang masih defisit tapi hasilnya begini, hasil nolongin rakyat ketika varian delta naik. Itu hasilnya," kata dia.