Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan kontraksi ekonomi Indonesia pada tahun 2020 masih berada di level moderat. Alasannya kontraksi yang terjadi di Indonesia hanya minus 2,07 persen. Angka ini diklaim lebih baik dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya yang mencapai minus 4,0 persen.
"Kontraksi ekonomi 2020 sebesar minus 2,07 persen ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang punya kemampuan terhadap dampak pandemi dan menempatkan pada level moderat," kata Sri Mulyani dalam Sidang Paripurna DPR-RI, Jakarta, Kamis (15/7).
Sri Mulyani mengatakan pencapaian tersebut merupakan buah dari respons yang diambil pemerintah untuk mengambil langkah-langkah luar biasa atau extraordinary dalam situasi kegentingan yang memaksa. Misalnya untuk kebutuhan pendanaan yang cepat, pemerintah melakukan burden sharing dengan Bank Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga menerbitkan SBN khusus untuk mendanai klaster kesehatan, sosial dan mendukung pemerintah pusat, daerah, UMKM hingga korporasi. Termasuk secara khusus melakukan pencadangan dana untuk pengadaan pembelian vaksin bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Semua langkah tersebut tidak terlepas dari sinergi kuat antara fiskal dan sektoral yang turut didukung oleh DPR sebagai lembaga legislatif.
"Sinergi yang kuat antara fiskal dan sektoral dan dukungan luar biasa dari DPR telah dalam optimalkan risiko global ke perekonomian nasional," kata Sri Mulyani.
Advertisement
Stabilitas Makro Terjaga
Sehingga, lanjut Sri Mulyani, stabilitas ekonomi makro bisa tetap terjaga. Ini terlihat dari kinerja ekonomi tahun 2020 yang mencatatkan PDB menjadi Rp15.434,2 triliun. Meskipun angka ini lebih rendah dari capaian tahun 2019 yakni Rp15.833,9 triliun.
Pandemi juga membuat pemerintah terpaksa menekan pergerakan masyarakat demi mengendalikan penyebaran virus corona. Akibatnya tingkat inflasi selama 2020 bergerak rendah di angka 1,68 persen (yoy). Lebih rendah dari tahun 2019 yang berada di posisi 2,72 persen.
"Tingkat inflasi 2020 bergerak rendah yaitu 1,68 persen secara (yoy) lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 2,72 persen di tahun 2019," kata dia.