Malaysia Aviation Group, perusahaan induk Malaysia Airlines, mengatakan tidak dapat melakukan pembayaran utang setelah November 2020. Dalam sebuah surat kepada perusahaan pembiayaan, grup penerbangan tersebut menghabiskan dana operasional bulanan rata-rata sebesar USD 84 juta atau Rp 1,2 triliun.
Sementara, posisi likuiditas perusahaan hanya sebesar USD 88 juta per 31 Agustus. Di mana, tambahan modal telah didapat sebesar USD 139 juta atau sekitar Rp 2 triliun dari Khazanah.
Dilansir dari reuters, surat tersebut berisi permintaan maskapai mengenai kemungkinan diberikannya diskon besar. Ini merupakan bagian dari rencana restrukturisasi besar-besaran yang dicanangkan Malaysia Aviation Group.
Surat tersebut menambahkan bahwa dengan tidak adanya restrukturisasi yang dilaksanakan pada akhir tahun, Khazanah bermaksud memoratorium operasi. Sementara, rute yang dimiliki akan dialihkan ke maskapai lain untuk memastikan konektivitas ke Malaysia tetap berjalan.
Advertisement
Upaya Restrukturisasi Telah Dimulai
Malaysia Aviation Group kemudian mengonfirmasi dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, bahwa Malaysia Airlines telah menghubungi lessor, kreditur, dan pemasok utama ketika mereka memulai restrukturisasi yang mendesak karena dampak pandemi virus corona.
Sementara itu, Khazanah mengatakan bahwa mereka mendukung upaya restrukturisasi maskapai yang bertujuan menciptakan kemandirian finansial. Tetapi, tidak ada kejelasan apakah Khazanah akan memberikan dana tambahan setelah November.
Dalam surat tersebut, Malaysia Aviation Group mengatakan bahwa dukungan dana tambahan setelah Desember 2020 tergantung pada penyetujuan persyaratan restrukturisasi dengan semua pemangku kepentingan.
Reporter Magang : Brigitta Belia